Tech

Pentingnya Sopan Santun dalam Berselancar di Dunia Digital

Di Indonesia terdapat 3.640 kasus ujaran kebencian di media digital sepanjang tahun 2018 hingga 2021. 

Pentingnya Sopan Santun dalam Berselancar di Dunia Digital
Ilustrasi Hate Speech (AKURAT.CO/Chandra Nawa)

AKURAT.CO  Ujaran kebencian terus terjadi di ruang digital seiring bertambahnya pengguna internet dari hari ke hari. 

Hal ini semakin didukung oleh fakta yang menyebutkan bahwa netizen Indonesia menduduki peringkat satu sebagai netizen tidak sopan se-Asia Pasifik. 

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran diri yang tinggi untuk selalu bersikap sopan santun di ruang digital selayaknya di dunia nyata.

baca juga:

Menyikapi hal tersebut kalangan akademisi dan aktifis sosial media punya pandangan terhadap fenomena tersebut.

Social Media Officer Ni Putu Ruslina Darmayanthi memberikan sebuah fakta bahwa terdapat 3.640 kasus ujaran kebencian di media digital sepanjang tahun 2018 hingga 2021. 

Menurut Ruslina, ujaran kebencian awalnya dapat terjadi karena adanya penghasut yang membuat konten ujaran kebencian dengan sengaja mengubah fakta-fakta atau disinformasi agar orang-orang ikut terpancing.

“Sopan santun adalah landasan utama masyarakat yang beradab. Jadi, kita harus perlakukan orang dengan baik dan hormat, baik secara online maupun offline,” pesan Ruslina dalam webinar bertema “Safe and Secure Online”, Senin (15/8), di Pontianak, Kalimantan Barat.

Terkait etika digital, Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol Universitas Gadjah Mada Agus Pramusinto menjelaskan karakteristik generasi alfa, salah satunya adalah mencari inspirasi pada platform Pinterest, Instagram, dan Youtube sebelum berbelanja.

Kemudian, ia menyebutkan adanya teknologi yang semakin canggih membuat mereka dapat membaca dan memetakan kebiasaan kita hanya dengan membaca jejak yang kita tinggalkan. 

Hal ini dimulai dari hal sederhana, misalnya penggunaan peta digital seperti Waze dan Google Maps, dimana pola kita sehari-hari menjadi lebih mudah untuk dipelajari oleh pihak lain.

“Jejak digital adalah gambaran perilaku kita. Komen yang kita kirim contohnya, apakah termasuk sopan santun dan positif atau suka menghujat, melecehkan, menghina, atau menyakiti. Kemudian juga dari unggahan foto kita, apakah kita pamer diri, seperti belanja, jajan kuliner, dan wisata atau pesan kebaikan untuk orang banyak, seperti motivasi untuk berprestasi.” Katanya.

Ketua Prodi Ilmu Administrasi Publik FISIP UNPAR yaitu Trisno Sakti Herwanto menuturkan definisi budaya, yakni cara hidup untuk menjawab tantangan kehidupan.

Trisno memberi contoh yang salah satunya yaitu alasan mengapa rumah tradisional di Indonesia kebanyakan berbentuk rumah panggung.

Rupanya, hal tersebut dikarenakan orang zaman dahulu tidur beralaskan lantai dan masih banyak hewan buas di sekitarnya sehingga diperlukan jarak antara lantai dengan tanah agar aman. 

Selanjutnya, Trisno mengungkapkan perbedaan jejak digital zaman dahulu dengan zaman sekarang, dimana apabila zaman dahulu berupa prasasti sedangkan zaman sekarang berupa jejak pencarian serta unggahan di internet.

“Banyak sekali kampanye tentang keberagaman. Contohnya iklan salah satu deterjen, dimana baju seragam anaknya tidak seputih teman-temannya lalu ibunya menggunakan deterjen tersebut sehingga baju seragamnya putihnya sama. Dengan demikian, kita itu mengampanyekan untuk menyeragamkan, bukan menghargai perbedaan, menghargai keberagaman,” tuturnya dalam acara yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi itu.