Lifestyle

Bunga Edelweis dan Ritual Adat Suku Tengger

Warga suku Tengger menggunakan bunga Edelweis untuk ritual adat!


Bunga Edelweis dan Ritual Adat Suku Tengger
Fakta kasus bunga edelweis Aurel Hermansyah (Instagram/aurelie.hermansyah)

AKURAT.CO, Beberapa waktu lalu, bunga edelweis ramai dibicarakan di media sosial. Hal ini disebabkan Aurel Hermansyah memamerkan sejumlah bunga edelweis di medsosnya, yang diberi oleh suaminya, Atta Halilintar.

Hal ini sontak membuat warganet kaget karena seperti diketahui edelweis menjadi salah satu tanaman yang dilindungi di Indonesia. Larangan memetik bunga Edelweis tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 33 Ayat 1 dan 2 tentang Konservasi Sumber Hayati Ekosistem. Ini juga diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Setelah mendapat banyak kritikan, Atta akhirnya mengaku tak memetik bunganya sendiri, melainkan membelinya dari seorang penjual seharga Rp40 ribu. Apabila  dilindungi secara hukum, bolehkah bunga edelweis dibudidayakan dan diperjualbelikan?

Ada beberapa alasan bunga edelweis dilindungi. Pertama tanaman bernama latin  Anaphalis javanica ini tumbuh di daerah konversasi. Artinya, edelweis masuk dari bagian yang dilindungi. Selain itu, edelweis juga masuk dalam jenis tanaman langka kategori in threatened. Artinya, keberadaannya dalam kondisi terancam.  IUCN adalah International Union for Conservation of Nature, sebuah organisasi konservasi internasional.

Meski begitu,  jual-beli bunga edelweis diperbolehkan asal didapat dari hasil budidaya. Produk hukum yang mengatur jual-beli Edelweis tertuang dalam Permen LHK Nomor 3 tahun 2021, tentang Standar Kegiatan Usaha Pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Salah satu lokasi budidaya bunga edelweis adalah Dusun Wonomerto, Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan. Yang menarik, tujuan budidaya bunga edelweis di dusun ini bukan hanya untuk tujuan komersil, melainkan sebagai bagian dari ritual adat. 

Awalnya, setiap ingin melakukan ritual adat, warga Suku Tengger memetik bunga dari hutan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Namun, bunga tersebut dilindungi dan tidak boleh dipetik sehingga warga diizinkan membudidayakan bunga agar tak perlu lagi memetik ke TNBTS. 

Bunga edelweis sendiri memiliki makna penting untuk warga Suku Tengger. Mereka menyebut bunga abadi ini sebagai ana Layu, yang diambil dari bahasa sansakerta.

Dalam beberapa upacara adat warga Suku Tengger, bunga edelweis memiliki peranan yang sangat penting.

Berikut beberapa ritual adat yang menggunakan bunga edelweis :

Tanaman Edelweis digunakan warga Tengger dalam upacara adat Suku Tengger seperti Yadnya Kasada yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Warga suku Tengger telah menggelar Yadnya Kasada sejak masa Kerajaan Majapahit sekira abad ke-13 M. Dalam ucapara adat ini, mereka melemparkan sesajian ke ke kawah gunung Bromo sebagai penghormatan pada alam sekaligus penyucian.

Selain itu juga ada ritual unan-unan setiap lima tahun sekali. Upacara ini sendiri digelar untuk melengkapi kekurangan hari.  Dalam penanggalan Suku Tengger setiap bulan memiliki 30 hari, sementara pada bulan tertentu hanya terdapat 29 hari. Jika dijumlahkan ada selisih lima tau enam hari dalam setahun. Selisih hari itu dimasukkan ke dalam Bulan Dhesta atau bulan kesebelas yang hanya ada dalam penanggalan tiap lima tahun sekali. 

Ada juga upacara entas–entas atau ngaben yang dilaksanakan oleh perorangan untuk menghormati para leluhurnya. Selain itu ada upacara liwet–liwet dan upacara barikan yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali. 

Pada dasarnya, bunga edelweis sangat penting bagi warga suku Tengger.

Tak hanya untuk kepentingan budaya, kini budidaya edelweis dijadikan destinasi wisata. Selain di Wonokitri, Taman Edelweis juga terdapat di tiga desa lain di antaranya Desa Ngadisari di Kabupaten Probolinggo, Desa Ngadas di Kabupaten Malang, dan Desa Ranupani di Kabupaten Lumajang.[]

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co