Lifestyle

Batagak Panghulu di Sumatera Barat, Penghulu Tak Asal Sembarang Penghulu

Batagak panghulu berarti meresmikan seseorang menjadi penghulu dalam adat Minangkabau.


Batagak Panghulu di Sumatera Barat, Penghulu Tak Asal Sembarang Penghulu
Istana Pagaruyung - Sumatera Barat (WIKIPEDIA)

AKURAT.CO, Indonesia kaya akan beragam tradisi dan adat istiadat. Salah satunya adalah Batagak panghulu dari Sumatera Barat. Batagak panghulu berarti meresmikan seseorang menjadi penghulu (kepala adat atau pimpinan sebuah suku).

Batagak pangulu sendiri bukanlah tradisi rutin yang dilakukan setiap tahun, atau waktu tertentu. Pengangkatan penghulu hanya boleh dilakukan atas tiga hal seperti hiduik bakarelaan (mengganti penghulu yang masih hidup), mati batungkek budi (mengganti penghulu yang sudah meninggal dunia), gadang manyimpang (pengankatan penghulu baru).

Artinya, seseorang penghulu akan diganti pada saat dirinya sudah tidak mampu lagi menjalankan tugasnya dengan berbagai alasan, seperti memiliki kesibukan lain, masalah kesehatan, pindah, dan sebagainya. Calon pengganti biasanya adalah kemenakannya (putra saudara perempuannya) yang sudah dewasa. 

Menurut adat Minangkabau, pengangkatan penghulu ini tidak bisa dilakukan secara sederhana. Upacara pengangkatan ini umumnya dilakukan secara besar-besaran. Yang bersangkutan wajib memotong seekor kerbau, baik untuk perseorang maupun untuk bersama (beberapa orang calon penghulu).

Kepalanya digantungkan di tempat yang lebih tinggi sebagai tanda suksesnya kegiatan ini. Acara ini juga berlangsung selama tiga hingga tujuh hari, disertai dengan pertunjukan kesenian untuk menghibur tamu.

Selain itu, upacara ini tidak boleh hanya melibatkan keluarga yang bersangkutan. Wajib ada Kerapatan Adat Nagari (KAN), dan peresmiannya harus berpedoman kepada petitih adat “maangkek rajo, sakato alam, maangkek penghulu sakato kaum."

Ada serangkaian acara yang perlu dijalankan untuk mengangkat dan meresmikan seorang pehulu. Pertama, pihak-pihak terkait akan melakukan rapat, yang hasilnya dibawa ke halaman (tingkat desa).

Kemudian, hal ini akan dibicarakan ke tingkat suku hingga akhirnya masuk dalam agenda KAN.  Rangkaian acara ini wajib dijalankan karena hanya pucuk adat yang boleh memasangkan deta panghulu (tutup kepala kebesaran) yang baru.

Kepemimpinan penghulu ditentukan oleh masyarakat kaumnya, serta harus mendapatkan dukungan dari anggota keluarganya untuk menjalankan roda pemerintahan nagari. Pasalnya, seorang penghulu pada hakekatnya harus menganut prinsip “tumbuah dek batanam, tinggi dek baanjuang, gadang dek baambak” (tumbuh karena ditanam, tinggi karena dianjung, besar karena digemburkan).

Pada beberapa daerah atau nagari mungkin ada perbedaan dalam tata cara mengangkat penghulu.[]