News

Penjual Kulit Ketupat: Awalnya Saya Was-was Tidak Ada yang Beli, Tapi Enggak Tuh!


Penjual Kulit Ketupat: Awalnya Saya Was-was Tidak Ada yang Beli, Tapi Enggak Tuh!
Pedagang saat membentuk kulit ketupat yang dijual di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (20/5/2020). Menurut pedagang penjualan kulit ketupat masih terlihat normal meski pemberlakukan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) masih diterapkan di Jakarta. Harga yang diperjual belikan untuk kulit ketupat dengan harga satuan mulai Rp700 hingga Rp1.000. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Mendekati Hari Raya Idul Fitri masih banyak masyarakat yang pergi ke luar hanya untuk memberi bahan makanan dan kulit ketupat untuk membuat ketupat, meski saat ini masih diterapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pedagang musiman bernama Ana (39) sudah tiga hari berjualan kulit ketupat di Pasar Lembang, Tangerang. Ia mengatakan masyarakat masih ada yang antusias menyambut lebaran dan tidak ingin menghilangkan tradisi yang dilakukan dari tahun ke tahun, yakni makan ketupat.

"Masih banyak ternyata, kenyataannya sampai saat ini masih banyak yang beli kulit ketupat. Awalnya saya was-was juga akan sedikit yang beli, tapi enggak tuh," kata Ana saat ditemui AKURAT.CO, Kamis (21/5/2020).

Berdagang Sambil Menjaga Tradisi

Ana mengatakan jika ia berjualan kulit ketupat hanya untuk usaha dirinya dan membantu masyarakat agar tradisi tersebut terus ada.

"Karena sebagian besar kami memang perlu usaha dan sebagiannya lagi kami tidak ingin menghilangkan tradisi masyarakat membuat ketupat saat lebaran. Terlebih di daerah, kalau tidak ada yang jualan (ketupat), tradisi mereka sedikit gagal," ujarnya.

Ana menjual harga kulit ketupat mulai dari Rp1.500 sampai Rp2.000 rupiah. "Tapi kita gak nentu juga ya dapat berapanya dari jualan kulit ketupat. Tergantung dari bawaan kita si ya, kalau kita bawa banyak bisa aja ini abis," katanya.

Ana mengaku jika dirinya berasal dari Malingping, Lebak, Banten. Selama tiga hari ia berjualan, Ana dan saudara-saudaranya tidak bolak-balik pulang ke rumah.

"Saya kesini cuma buat jualan aja, terus nanti saya pulang lagi ke Malingping. Soalnya disini kan cuma 3 hari, tinggal di deket pasar aja, biasanya juga kita ngemper aja di depan (ruko) ini," kata dia.

Social Distancing Mempengaruhi Penghasilan

Meski berjualan, Ana tetap menerapkan social distancing dengan para pelanggannya. Dimana ia menuruti aturan pemerintah sehingga dirinya dan para pembeli tetap aman saat berbelanja.

Kata Ana, musim lebaran biasa dengan kondisi saat ini sungguh berbeda. Ia merasa sedikit sedih, sebab harus ada batasan penjualan yang tidak seperti biasanya.

"Beda jauh dari hari lebaran biasa dengan pandemi begini penghasilan. Berbeda karena barangnya (kulit ketupat) yang dibuat sedikit, sementara pembeli ada aja. Nah itu pasti banyak yang gak kebagian," ucapnya.[]