News

Pengunjuk Rasa Anti-Kudeta Sudan Kembali Tewas di Tangan Aparat, Total 71 Pendemo Meregang Nyawa

Pengunjuk Rasa Anti-Kudeta Sudan Kembali Tewas di Tangan Aparat, Total 71 Pendemo Meregang Nyawa


Pengunjuk Rasa Anti-Kudeta Sudan Kembali Tewas di Tangan Aparat, Total 71 Pendemo Meregang Nyawa
Dalam gambar ini, warga yang berdemonstrasi meneriakkan slogan-slogan selama protes anti-kudeta di Khartoum (AFP)

AKURAT.CO, Kasus pendemo anti-kudeta yang tewas di tangan pasukan keamanan kembali dilaporkan oleh petugas medis dan aktivis Sudan. Dalam perkembangan terbaru, setidaknya tujuh pengunjuk rasa telah meregang nyawa, menjadikan total pendemo yang meninggal melonjak hingga lebih dari 70 orang.

Seperti diwartakan Al Jazeera, kasus terbaru pendemo yang tewas terjadi di saat AS akan mengirimkan diplomatnya ke Sudan pada minggu ini. Diketahui, Washington menjadi salah satu negara yang ingin menghidupkan kembali transisi ke pemerintahan sipil.

Pada Senin (17/1) kemarin, di Sudan kembali terjadi demonstrasi massal menentang kudeta. Demo terbaru itu diikuti oleh ribuan massa, di mana mereka berbaris menuju istana presiden di ibu kota demi menentang kekuasaan militer.

baca juga:

Dilaporkan pada hari itu, massa berhasil berkumpul sekitar 2 km dari istana. Mereka pun sempat memblokir jalan utama di lingkungan Al Diyum hingga membakar ban sebelum memulai memulai pawai.

 Ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes kudeta Sudan yang pecah pada 25 Oktober 2021-Marwan Ali/AP Photo

Kerumunan besar pendemo anti-kudeta secara teratur turun ke jalan menuntut kembalinya pemerintahan sipil sejak kudeta militer pada 25 Oktober. 

Namun,  upaya terbaru untuk menggulingkan kekuasaan militer itu lagi-lagi ditanggapi dengan tindakan kekerasan, dengan petugas setidaknya menembakkan gas air mata dan melepaskan tembakan.

Di tengah kerusuhan itu, para pengunjuk rasa akhirnya kembali menjadi korban. Komite Sentral Dokter Sudan (CCSD) mengonfirmasi setidaknya ada tujuh pengunjuk rasa yang tewas oleh pasukan keamanan pada hari Senin. Sementara puluhan lainnya terluka.

Laporan serupa juga disampaikan oleh seorang aktivis Sudan, Nazim Sirag. Ia menjelaskan bahwa tujuh pengunjuk rasa itu tewas ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan untuk membubarkan beberapa pawai di ibu kota. Itu termasuk di daerah sekitar istana presiden.

Tujuh pembunuhan pada protes Senin menjadikan total pengunjuk rasa yang tewas menjadi 71 orang. Mereka pun menjadi korban kudeta Oktober yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan.

Gerakan pro-demokrasi telah mengutuk penembakan mematikan pada hari Senin. Mereka juga menyerukan kampanye pembangkangan sipil selama dua hari atas tindakan pasukan keamanan.

Faisal Saleh, mantan menteri informasi dan penasihat PM Abdalla Hamdok, juga ikut mengecam insiden itu. Ia menegaskan bahwa pembunuhan itu sepenuhnya adalah 'kejahatan'. Saleh lalu mendesak masyarakat internasional untuk bertindak.

"Rakyat Sudan sedang tidak menghadapi pemerintah atau otoritas yang sewenang-wenang, melainkan geng kriminal yang membunuh para pemuda Sudan dengan darah dingin, dan seluruh dunia menyaksikannya," tulis Saleh di Twitter.

PBB juga menyerukan hal sama, mengutuk 'penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran'. 

"Baik itu di Khartoum atau tempat lain, orang memiliki hak untuk berdemonstrasi secara damai," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric Senin malam.

 Seorang pengunjuk rasa Sudan memegang gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan keamanan selama protes menentang kudeta militer, di selatan ibukota Khartoum-AFP

Sementara itu, responden Al Jazeera, Hiba Morgan, mengungkap bahwa para pengunjuk rasa berencana menjadwalkan lebih banyak protes dalam beberapa hari mendatang. Melaporkan dari ibu kota Khartoum, Morgan juga mengatakan bahwa pada dasarnya warga ingin menunjukkan kepada militer bahwa mereka menginginkan inisiatif apa pun yang akan menghasilkan pemerintah sipil yang murni. 

"Mereka mengatakan bahwa itulah yang mereka tuntut dan terlepas dari penggunaan kekuatan yang brutal dan berlebihan, seperti yang disebut oleh PBB, mereka akan terus memprotes,"  lapor Morgan.

Namun, pihak berwenang, bagaimanapun, telah berulang kali membantah menggunakan peluru tajam dalam menghadapi demonstran. Mereka juga bersikeras mengatakan bahwa puluhan personel keamanan telah terluka selama protes yang dianggap 'menyimpang dari kedamaian'.

Pada hari Kamis pekan lalu, pihak berwenang Sudan mengatakan pengunjuk rasa menikam hingga mati seorang jenderal polisi, menjadikannya sebagai kematian pertama di antara pasukan keamanan.

Jenderal Burhan juga telah bersikeras bahwa pengambilalihan militer pada tahun lalu 'bukanlah aksi kudeta', melainkan hanya dimaksudkan untuk 'memperbaiki' jalannya transisi pasca-Bashir.

Lalu, pada awal bulan ini, Hamdok, yang sempat digulingkan dan kemudian diangkat kembali, akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia mengatakan bahwa Sudan kini sedang berada di 'persimpangan jalan berbahaya yang mengancam kelangsungan hidup bangsa'. []