Ekonomi

Pengunaan APBN untuk Kereta Cepat Malah Lukai Program Pemulihan Ekonomi

Keputusan tersebut dapat mengikis porsi belanja negara untuk program penanganan pandemi Covid-19


Pengunaan APBN untuk Kereta Cepat Malah Lukai Program Pemulihan Ekonomi
Proyek pembangunan kereta cepat yang sedang dalam tahap pengerjaan di kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/9/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan pembiayaan kereta cepat Jakarta-Bandung bakal diperbolehkan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lewat Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021

Menanggapi hal tersebut, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Heri Firdaus menilai keputusan Jokowi dapat mengikis porsi belanja negara untuk program penanganan pandemi Covid-19 serta pemulihan ekonomi nasional.

"Harusnya APBN ini fokus program pemulihan ekonomi, seperti kesehatan, daya beli masayrakat, bansos hingga UMKM, sebenarnya belum urgensi kereta cepat," ujarnya saat dihubungi, Rabu (13/10/2021).

Menurutnya urgensi Kereta Cepat Jakarta-Bandung juga tak begitu penting sebab masih ada banyak moda transportasi di jalur tersebut. Sehingga dampak multipliernya juga tak terlalu terasa di wilayah yang memang sudah lebih maju.

Untuk itu ia mengatakan jika memang kereta cepat tersebut dilanjutkan maka sebaiknya pemerintah tetap dengan skema business to business, tanpa melibatakan APBN yang bebannya sudah cukup berat saat ini.

"Karena APBN sangat terbatas saat ini, momen tak tepat. pendapaan tak optimal sehingga defisit lebar," ujarnya.

Untuk itu Heri menilai bahwa nilai strategis proyek ini menjadi pertanyaan. Menurutnya jika menguntungkan harusnya tak perlu ada keterlibatan APBN. 

Menurutnya hal ini terjadi karena tidak ada perencanaan matang oleh pemerintah sehingga terjadi perubahan besar dalam skema pembangunan proyek ini. 

"Kenapa B to B bisa ngga jalan, berarti ada yang salah dari perencaan pemerintah, serta perkiraan dari nilai strategis proyek ini," katanya.