Tantan Hermansah

(Ketua Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Jakarta; Pengajar Sosiologi Perkotaan)
Lifestyle

Penguatan Infra-Srutruktur Teknologi Wisata di Masa Wabah

Kebutuhan melancong, bertamasya, atau piknik semakin meningkat terutama sebelum pandemi


Penguatan Infra-Srutruktur Teknologi Wisata di Masa Wabah
Tantan Hermansah, Ketua Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Jakarta; Pengajar Sosiologi Perkotaan (Dok. Pri)

AKURAT.CO, Hampir sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Covid-19 berdampak besar kepada industri pariwisata. Studi yang dilakukan oleh Ashikul Hoque dkk. (2020) tentang dampak corona di Tiongkok, mengkonfirmasi bagaimana dampak pandemi pada ditundanya berbagai perjalanan wisata ke Tiongkok maupun ke luar negeri. Secara agregat, miliaran perjalanan wisata dipending untuk waktu yang belum bisa diperkirakan.

Akibat “terhentinya” pergerakan manusia untuk melakukan perjalanan wisata ini, maka banyak agensi perjalanan dan sarana penunjangnya seperti perusahaan maskapai yang terancam “gulung tikar”. Akankah pandemi covid-19 memusnahkan industri pariwisata?

Kebutuhan (ber)wisata

Hasil penelitian diatas sebenarnya bisa dikatakan hanya memperkuat bukti bahwa virus korona ini memberikan pengaruh signifikan kepada kehidupan manusia, termasuk salah satunya adalah industri pariwisata. Keadaan ini tentu tidak bisa dibiarkan. Sebab, pergi melancong merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Kebutuhan melancong, bertamasya, atau piknik semakin meningkat terutama sebelum pandemi, karena berkorelasi positif pada banyak hal, antara lain: Pertama, berwisata memberikan dampak membaiknya psikologi pelaku, terutama mereka yang selama berhari-hari larut dalam kehidupan rutin pekerjaan. Sehingga dengan melancong, bukan hanya kepenatan yang terlepaskan dari rutinitas, tetapi juga seperti men-charging energi baru untuk menghadapi dunia rutin di hari dan minggu berikutnya.

Rutinitas kerja adalah raksasa pembunuh yang sudah lama diidentifikasi para ahli. Karl Marx (1818-1883) menyebutkan bahwa kerja adalah biang dari keterasingan manusia. Dalam kerja ada mesin dalam bentuk sistem yang mengelola sumber daya energi manusia untuk melakukan sesuatu sesuai sistemnya.

Dunia kerja sendiri seperti mesin raksasa yang relasi antar entitasnya sangat besar dalam melibatkan sub-sistem yang rumit dan detail. Contoh, seseorang yang sedang asyik membereskan perhitungan pajak sebuah perusahaan kecil, sesungguhnya ia tidak sendirian. Bisa jadi ia merupakan sebuah sekrup pada suatu sistem besar mulai dari dinas pemerintah, sistem keuangan, dan sebagainya.

Mesin besar inilah yang mengatur sebagian kehidupan manusia dalam satu frasa rutin. Ketika manusia hidup dalam alam rutin tersebut, maka energi tubuhnya tersedot setiap kali menggunakannya. Sehingga dalam skala waktu tertentu, diperlukan berwisata untuk melakukan semacam re-charging pada tubuhnya itu. Sehingga produktivitas yang sudah menurun itu akan meningkat kembali.

Kedua, pariwisata adalah industri penunjang dalam sistem industri besar yang kontribusinya bukan hanya kepada pelaku, tetapi juga kepada masyarakat sekitarnya. Sehingga daerah-daerah wisata umumnya memiliki tingkat kesejahteraan lebih tinggi dibanding daerah yang bukan destinasi wisata.

Bonifasius Sedu Beribe

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu