Ekonomi

Penggunaan Bahan Bakar Fosil Dominan, Airlangga: Menimbulkan Emisi Gas Rumah Kaca

Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik meski di tengah pandemi, masyarakat Indonesia memiliki kebutuhan energi yang besar untuk menunjang aktivitasnya.


Penggunaan Bahan Bakar Fosil Dominan, Airlangga: Menimbulkan Emisi Gas Rumah Kaca
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di kawasan Menteng, Jakarta, Kamis (12/5/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan dengan terus berkembangnya isu perubahan iklim yang menjadi salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahan bakar fosil yang dominan. Sehingga menimbulkan emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi.

Ia menjelaskan untuk mengurangi emisi tersebut, perlu dilakukan Langkah-langkah dengan mengalihkan penggunaan energi fosil menjadi energi baru terbarukan (EBT) menjadi hak yang haru terus dipikirkan.

“Penting bagi kita untuk mengenali situasi yang dihadapi, serta perlu memastikan bahwa kita sudah menyeimbangkan permintaan saat ini untuk energi konvensional, sambil tetap berkomitmen pada upaya transisi energi,” ucap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pada keterangan tertulis, Rabu (25/5/22).

baca juga:

Menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik meski di tengah pandemi, masyarakat Indonesia memiliki kebutuhan energi yang besar untuk menunjang aktivitasnya.

Akan tetapi, target elektrifikasi universal telah menjadi penghasil emisi GRK terkemuka, karena penggunaan tenaga batu bara menjadi berlipat ganda dan juga terlihat adanya peningkatan emisi GRK sebesar 140 persen antara tahun 1990 dan 2017. 

“Permintaan dan potensi energi terbarukan di Indonesia semakin meningkat, sebab diperkirakan kebutuhan energi Indonesia juga akan meningkat semakin besar. Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki penambahan energi terbarukan yang konsisten dalam bauran energi secara keseluruhan. Hal ini tentunya merupakan perkembangan positif dalam pergeseran penggunaan energi di Indonesia menjadi energi hijau,” jelasnya.

Sementara penelitian menunjukkan transisi energi akan membutuhkan sejumlah besar investasi. Untuk mendorong hal ini, Indonesia akan memainkan peran penting dalam menerapkan pembiayaan hijau dan berkelanjutan yang inovatif, sekaligus memastikan jalur investasi yang tepat.

“Indonesia juga mempertimbangkan untuk menyiapkan skema-skema inovatif dalam hal harga karbon, termasuk mekanisme pasar dan non-pasar,” katanya.

Sementara itu, energi terbarukan juga diprediksi akan menciptakan banyak lapangan kerja. Keuntungan tidak langsung ini juga akan mencakup pemberdayaan transfer teknologi dan pengurangan ketergantungan pada impor produk minyak bumi dan batu bara.