Rahmah

Pengantin Pria Belum Sunat? Apakah Pernikahan Dianggap Sah?

Begini ketentuan khitan bagi laki-laki yang akan menikah


Pengantin Pria Belum Sunat? Apakah Pernikahan Dianggap Sah?
Pengantin Pria (ISTIMEWA)

AKURAT.CO   Sunat atau khitan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh laki-laki yang merupakan perintah dari Nabi Ibrahim as. Sunat dilakukan agar tidak ada najis yang menempel pada bagian kemaluan laki-laki ketika salat.

Meski demikian, tidak hanya bagi laki-laki, sebagian ulama dalam hal ini Imam Nawawi yang mengatakan bahwa khitan juga wajib bagi perempuan. Tentang hal ini Imam Nawawi menuturkannya di dalam kitab Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab juz I, hal. 349 sebagai berikut:

الْخِتَانُ وَاجِبٌ عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ كَثِيرُونَ مِنْ السَّلَفِ كَذَا حَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ وَمِمَّنْ أَوْجَبَهُ أَحْمَدُ وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ سُنَّةٌ فِي حَقِّ الْجَمِيعِ وَحَكَاهُ الرَّافِعِيُّ وَجْهًا لَنَا: وَحَكَى وَجْهًا ثَالِثًا أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الرَّجُلِ وَسُنَّةٌ فِي الْمَرْأَةِ   

Artinya: “Bagi kami (ulama Syafi’iyah) khitan itu wajib bagi laki-laki dan perempuan. Demikian pula kebanyakan ulama salaf berpendapat. Hal itu disampaikan oleh Al-Khathabi. Termasuk yang mewajibkan khitan adalah Imam Ahmad. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat hukum khitan adalah sunnah bagi semuanya (laki-laki dan perempuan). Imam Rofi’i menuturkan pendapat lain bagi kita, pendapat ketiga bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan.” 

Adapun waktu terbaik untuk melaksanakan khitan adalah sebagaimana disebutkan Kitab Tuhfatul Habib disebutkan bahwa:

ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ : ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ، ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻣﻦ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺿﻌﻴﻔﺎً ﻻ ﻳﺤﺘﻤﻠﻪ ﻓﻴﺆﺧﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﺘﻤﻠﻪ 

Artinya: "Para santri Imam Syafi'i berkata bahwa sesungguhnya khitan itu wajib setelah dewasa. Namun pelaksanaannya sunah dilakukan saat bayi berusia tujuh hari dari hari kelahirannya, terkecuali bila kondisi bayi tersebut lemah dan tidak mampu menanggungnya, maka pelaksanaannya bisa ditunda sampai ia dewasa."

Kemudian berikutnya, bagaimana jika khitan ini masuk dalam persoalan akad pernikahan. Apakah orang yang belum sunat/khitan pernikahannya dianggap sah atau tidak sama sekali?

Bila kita melihat pandangan para ulama, seperti Abu Bakar Al-Hishni dalam Kifâyatul Akhyâr tentang syarat-syarat menikah, adalah sebagai berikut:

ـ (فرع) يشْتَرط فِي صِحَة عقد النِّكَاح حُضُور أَرْبَعَة ولي وَزوج وشاهدي عدل   

Artinya: “(Cabang) dalam keabsahan akad nikah disyaratkan hadirnya empat orang; wali, suami, dan dua orang saksi.” 

Dari penjelasan di atas tentu sudah cukup jelas, bahwa syarat pernikahan tidak disebutkan sudah harus khitan. Sehingga, sunat/khitan tidak menjadi ketentuan seseorang saat akan menikah. Seseorang yang belum sunat, dan kemudian melakukan pernikahan, maka nikahnya tetap dianggap sah. Wallahu A'lam.[]