Ekonomi

Pengamat: Vaksin Bukan Kebijakan Ampuh Pengendalian Pandemi Covid-19!

Angka kasus positif Covid-19 di banyak wilayah mengindikasikan belum komprehensifnya pemahaman masyarakat mengenai vaksin


Pengamat: Vaksin Bukan Kebijakan Ampuh Pengendalian Pandemi Covid-19!
Presiden Joko Widodo meninjau pelaksanaan perdana program Vaksinasi COVID-19 Gotong Royong di pabrik PT Unilever Indonesia, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (18/5/2021). (AKURAT.CO/BPMI-Setpres/Lukas)

AKURAT.CO Meningkatnya angka kasus positif Covid-19 di banyak wilayah di Indonesia antara lain mengindikasikan belum komprehensifnya pemahaman masyarakat mengenai vaksin dan kebijakan pengendalian pandemi. Lantaran sebagian kalangan masih menganggap bahwa setelah menerima vaksin tidak perlu lagi menjalankan kebijakan pengendalian atau protokol kesehatan dalam beraktivitas.

“Keberadaan vaksin tetap harus dibarengi dengan perbaikan metode diagnosa, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, dan internalisasi protokol kesehatan sebagai gaya hidup baru,” Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta lewat keterangan tertulisnya, Selasa (22/6/2021)

Ia melanjutkan bahwa diperlukan pemahaman bahwa vaksin bukanlah pengganti melainkan pelengkap kebijakan pengendalian yang sudah ada. Pihaknya menjelaskan, salah satu efek samping psikologis dari vaksinasi adalah menciptakan rasa aman yang palsu.

Penerima vaksin bisa saja langsung melupakan protokol kesehatan begitu disuntik karena merasa sudah memiliki kekebalan. Padahal vaksin butuh beberapa minggu untuk bekerja. 

" Diperlukan kebijakan yang harus dapat memastikan bahwa semua metode pengendalian bekerja bersama dan membentuk kerangka pengendalian pandemi yang menyeluruh. Agar dapat memberikan kinerja terbaik dalam mempercepat pemulihan negara ini dari krisis kesehatan terbesar abad ini," imbuhnya. 

Andree mengatakan kebijakan yang diperlukan seiring dengan digulirkannya vaksinasi, antara lain adalah peningkatan kapasitas pelacakan Covid-19, pengetatan protokol kesehatan selama vaksinasi dan meluruskan penggunaan tes cepat (rapid test) antibodi.

Vaksin Covid-19 yang beredar sekarang ini kebanyakan memerlukan dua dosis terpisah untuk menghasilkan perlindungan yang optimal hingga kekebalan efektif tidak serta-merta muncul setelah dosis pertama.  

Vaksin Pfizer/BioNTech, misalnya, hanya memberikan tingkat perlindungan sedikit di atas 50% setelah penyuntikkan pertama. Angka ini baru akan naik ke 90% setelah penyuntikkan dosis kedua tiga minggu kemudian. Vaksin lainnya dari Moderna, AstraZeneca/Oxford dan Sinovac juga memerlukan dua dosis per orang dengan selang waktu 2-4 minggu. 

Selain itu, lanjutnya, tidak ada vaksin Covid-19 yang sejauh ini 100% efektif. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika (CDC) tetap menyarankan penerima vaksin untuk menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak walaupun sudah menerima dua dosis vaksin.  

Jika masyarakat lengah dan menghentikan protokol kesehatan terlalu dini, bukan tidak mungkin vaksinasi massal malah akan diiringi percepatan penambahan kasus positif.  Vaksin perlu dipahami sebagai salah satu alat pelengkap untuk mengendalikan laju penyebaran Covid-19 dan bukan solusi akhir yang menggantikan kebijakan kesehatan yang sudah ada.[]

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co