News

Pengamat: Strategi Demokrat Umukan ada Isu Kudeta Cukup Cerdik

Pengamat: Strategi Demokrat Umukan ada Isu Kudeta Cukup Cerdik
Pengajar Ilmu Politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan dan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia /P2P-LIPI, Firman Noor dalam acara diskusi akhir pekan dengan tema Kemelut Partai Demokrat Berlanjut, secara vitrual, Sabtu (27/2/2021). (Youtube SmartFM)

AKURAT.CO, Pengajar Ilmu Politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan menilai cara Partai Demokrat mengumumkan adanya gerakan pengambilalihan kepemimpinan atau kudeta merupakan strategi yang cukup cerdik. 

Namun menurutnya, jika Partai Demokrat berani mengumumkan hal ini ke publik maka menunjukan bahwa mereka melihat unsur-unsur internal itu belum signifikan betul. Sehingga, mereka dapat mengantisipasi tidak ada perlawanan yang sifatnya publik. 

Hal tersebut dikatakan dalam acara diskusi akhir pekan dengan tema Kemelut Partai Demokrat Berlanjut, secara vitrual, Sabtu (27/2/2021). 

"Strategi ini cukup cerdik mengumumkan kan ini, tidak heran ada Pak SBY di belakangnya, jangan lupa juga banyak ahli politik juga di situ, ada Andi Mallarangeng, ada orang-orang yang jago politik di situ, jago strategi, ada yang biasa bermain di bawah," ungkap Djayadi. 

Djayadi menyebut, ada dua hal yang dimanfaatkan Partai Demokrat dalam momen isu kudeta ini. Pertama, Partai Demokrat bisa konsolidasi partai di bawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

"Satu, membuat pihak pihak eksternal dalam hal ini diakui Pak Moeldoko itu paling tidak untuk sementara menahan diri dulu kan. Jadi itu memberi waktu kepada partai Demokrat untuk melakukan konsolidasi lagi," paparnya. 

Kedua, lanjut Djayadi, Partai Demokrat meraih efek relasi publik. Karena dengan diumumkannya isu kudeta itu, Partai Demokrat untuk pertama kalinya berhadapan dengan istana dengan cukup tegas. 

"Jadi kalau selama ini yang berhadapan dengan tegas dengan istana dalam arti oposisi itu PKS, sekarang ada partai Demokrat. Kita lihat nanti ini berlanjut atau tidak," ujarnya. 

Dengan begitu, kata Djayadi, Partai Demokrat bisa memperoleh efek elektoral dari pihak pihak yang selama ini oposisi terhadap pemerintah. 

Dia menuturkan, data selama lima tahun terakhir ada sekitar 25-30 persen publik yang tidak akan menyatakan puas dengan apapun keberhasilan Presiden Jokowi. 

"Artinya kalau kita besarkan ada sekitar 30 persen potensi oposisi publik di luar sana yang belum ditangkap oleh partai-partai yang sekarang di luar pemerintahan, baru PKS yang memperoleh paling banyak, dua itu yang tampaknya ingin dicapai partai Demokrat," pungkasnya. 

Diketahui, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat (PD) akhirnya memecat kader-kadernya yang terlibat Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan (GPK) PD secara inkonstitusional. 

Ada tujuh kader Demokrat yang dipecat. Mereka adalah Darmizal, Yus Sudarso, Tri Yulianto, Jhoni Allen Marbun, Syofwatillah Mohzaib dan Ahmad Yahya, dan Marzuki Alie.[]

baca juga:

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu