News

Pengamat: Kinerja Jelek, Menteri Mesti Dicopot

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menyorot isu reshuffle kabinet di Kabinet Indonesia Maju. 


Pengamat: Kinerja Jelek, Menteri Mesti Dicopot
Ilustrasi ()

AKURAT.CO, Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menyorot isu reshuffle kabinet di Kabinet Indonesia Maju. 

Ujang mengatakan, ada dua indikator yang biasa dijadikan alasan untuk melakukan reshuffle kabinet. Indikator pertama, adalah indikator penilaian kinerja. Ujang mengatakan jika menggunakan indikator ini, menteri-menteri dari partai manapun harusnya dicopot bila tidak bekerja dengan baik.

"Yang pertama penilaian berdasarkan kinerja, jadi yang kinerjanya jelek, pasti diganti. Itu kalau penilaiannya objektif berdasarkan kinerja," kata Ujang saat dihubungi melalui sambungan telepon (23/10/2021). 

Namun demikian, Ujang mengatakan bahwa indikator politis yang didasarkan pada kepentingan partai lebih sering menjadi dasar dilakukannya reshuffle kabinet.

"Nah penilaian politis inilah (yang menyebabkan) menteri-menteri yang kerjanya jelek nggak diganti. Jadi saya melihatnya penilaian politis, subjektif itu yang dominan dalam konteks reshufle itu," ungkap Ujang. 

Ujang juga membeberkan keraguannya terkait reshuffle menteri yang berlatar belakang partai.

Menurut Ujang menteri-menteri dari partai tersebut memiliki kemungkinan lebih kecil untuk digantikan posisinya. Kalaupun digantikan, kemungkinan penggantinya berasal dari partai yang sama sehingga tidak mengurangi jatah kursi menteri untuk partai.

"Pertama tentu reshuffle itu tidak akan mengubah komitmen partai-partai dengan koalisi Jokowi itu. Artinya, misal Yasona diganti, pasti juga akan diganti orang PDIP juga, atau juga dipindah jadi kepala Kejaksaan Agung, dan sebagainya. Jadi tidak akan mengurangi jatah (kursi menteri) partai itu," terang Ujang. 

Sebelumnya, isu reshuffle kabinet kembali mengemuka setelah Partai Amanat Nasional (PAN) resmi merapat sebagai partai pendukung pemerintah.

Bergabungnya PAN ke barisan pendukung pemerintah berawal ketika Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno mengikuti pertemuan antara Jokowi dan ketua-ketua umum partai koalisi pada Rabu (25/8/2021).

Seperti diketahui sebelumnya, sejumlah nama menteri kabinet Indonesia Maju dikabarkan akan menjadi target reshuffle seperti Yassona Laoly dan KSP Moeldoko. 

Namun demikian, hingga saat ini belum diketahui kapan pastinya reshuffle akan dilakukan Presiden Jokowi. Sejumlah elite Istana ketika ditanya terkait kapan reshuffle akan diputuskan, mereka memilih bungkam dan menunggu keputusan presiden.[]