News

Pengalaman Dua Ilmuwan Muda Indonesia Kembangkan Vaksin Oxford-AstraZeneca, Kerja Lebih dari 12 Jam Sehari

Carina dan timnya bekerja begitu keras untuk mengembangkan vaksin, sampai-sampai bisa bekerja hingga 12 jam sehari selama seminggu penuh.


Pengalaman Dua Ilmuwan Muda Indonesia Kembangkan Vaksin Oxford-AstraZeneca, Kerja Lebih dari 12 Jam Sehari
Indra Rudiansyah (mahasiswa PhD peneliti vaksin AZ) dan Carina Joe (postdoctoral researcher Oxford, mengembangkan manufaktur vaksin AZ) (Instagram/desrapercaya)

AKURAT.CO Minggu (25/7) malam pukul 20.00 WIB, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Inggris Raya dan Irlandia, Desra Percaya mengadakan acara bincang-bincang dengan dua ilmuwan muda Indonesia. Dua Ilmuwan tersebut adalah Indra Rudiansyah dan Dr. Carina Joe. Keduanya merupakan peneliti Tanah Air yang ikut memainkan peranan penting dalam produksi dan pengembangan vaksin COVID-19 Oxford-Astrazeneca. 

Indra adalah kandidat PhD dan sejak awal merebaknya COVID-19 pada tahun 2020, ia terlibat dalam kelompok riset 'emerging pathogens' di Jenner Institute, University of Oxford. Ia membantu proses uji klinis vaksin Oxford-Astrazeneca, khususnya meneliti respons antibodi dari relawan yang telah divaksin.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Indra Rudiansyah, Pemuda RI yang Bantu Kembangkan Vaksin AstraZeneca

Sementara Carina adalah peneliti postdoctoral dari Jenner Institute sekaligus ilmuwan utama dalam pengembangan proses manufaktur vaksin Oxford-Astrazena. Ia pun ikut memegang paten atas proses manufaktur ber-output intensif bagi vaksin Oxford-AstraZeneca.

Acara bincang-bincang dengan Carina dan Indra itu bertajuk 'Ngosyek (Ngobrol Asyekk) di IG Live Bersama Indra Rudiansyah & Carina Joe: Para peneliti Indonesia di Balik Vaksin AstraZeneca'. Dalam acara itu, keduanya ditanyai berbagai pertanyaan penting soal vaksin Oxford-Astrazena. Di antara pertanyaan termasuk soal pengalaman hingga suka duka keduanya saat ikut melakukan riset pengembangan vaksin tersebut.

Menanggapi pertanyaan itu, Indra mengaku bangga karena telah menjadi bagian dalam proyek penting untuk menyelematkan umat manusia dari pandemi global. Ia beralasan karena bisa belajar langsung tentang cara kerja uji klinis vaksin dari para profesional, salah satunya Dame Sarah Gilbert. Seperti diketahui, Gilbert adalah salah satu ilmuwan perancang vaksin Oxford/AstraZeneca, dan ia sempat viral usai menerima 'standing ovation' di turnamen tenis Wimbledon. 

"Seneng dan bangga karena saya bisa belajar dari para profesional yang bekerja dalam bidang 'clinical trial (uji klinis). Jadi saya bisa dapat banyak ilmu dari bagaimana mereka me-manage (mengatur), mendesain clinical trial, merekrut volunteer (sukarelawan), kemudian bagaimana teman-teman bisa melakukan pembagian tugas.

"Karena clinical trial itu tidak mudah pak, karena melibatkan banyak orang dan sampelnya banyak. Jadi bisa aja ada yang banyak hal yang salah terjadi kapan pun. Tapi saya lihat orang-orang di sana sangat profesional, jadi ketika melihat kesalahan mereka akan bilang, 'Oke ini salah, kita belajar kembali'. Begitu sih pak, bisa belajar langsung dari orang-orang semacam Sarah Gilbert, Teresa Lambe, Karina....," jawab Indra.

Sementara Carina mengaku merasa mendapatkan tanggung jawab besar setelah mendapatkan proyek pengembangan vaksin COVID-19. Ini terutama karena hasil kerjanya akan memberi pengaruh langsung bagi kehidupan masyarakat secara global.