News

Pengakuan Tahanan Perang Rusia, 'Diperlakukan Lebih Buruk dari Seekor Anjing'

Pengakuan Tahanan Perang Rusia, 'Diperlakukan Lebih Buruk dari Seekor Anjing'
Aiden Aslin saat berada di ruang sidang di republik Donetsk yang memproklamirkan diri pada bulan Juni (AP)

AKURAT.CO Pengakuan mengejutkan telah diungkap oleh seorang tahanan perang Rusia. Pria yang  berasal dari Inggris itu mengatakan bahwa ia telah ditahan di sel isolasi selama lima bulan, dan diperlakukan lebih buruk dari seekor anjing.  

Tahanan bernama Aiden Aslin kini telah kembali ke nggris. Aslin sebelumnya dipenjara selama berbulan-bulan menyusul penangkapannya di Ukraina oleh pasukan yang didukung Rusia. 

Berbicara kepada The Sun pada Minggu (25/9), Aslin bercerita bagaimana ia pernah ditusuk saat ditahan Rusia. Saat itu, dia ditanya apakah menginginkan kematian yang cepat atau 'kematian yang indah'. Ia juga mengaku dipukuli hanya karena tatonya.

baca juga:

Pria Inggris itu menambahkan kesaksian bahwa setiap pagi, para tahanan harus menyanyikan lagu kebangsaan Rusia. 

"Dan jika Anda tidak menyanyikannya, Anda akan dihukum karenanya. Anda akan dipukuli," ujar Aslin.

Seperti diwartakan The Guardian hingga BBC, Aslin termasuk dari sepuluh tahanan yang dibebaskan pada Rabu malam. Aslin dan lainnya bebas dari belenggu Rusia setelah Arab Saudi mengatakan telah menengahi pertukaran tahahan antara Rusia dan Ukraina.

Di antara para tahahan itu adalah lima warga negara Inggris, termasuk John Harding, Dylan Healy, Andrew Hill, dan Shaun Pinner.

Aslin berasal dari Newark, Nottinghamshire. Pada tahun 2018, ia mulai membangun kehidupan baru di Ukraina setelah jatuh cinta dengan seorang wanita lokal, bernama Diane Okovyta. Sejak saat itu, Aslin bergabung dengan marinir.

Namun, kehidupan indah Aslin bersama Okovyta tiba-tiba hancur karena serangan Rusia pada Februari lalu. Aslin pun ikut berperang, tetapi tertangkap pada bulan April saat bertempur di kota tenggara Mariupol.

Dia, Pinner, dan warga negara Maroko, Brahim Saadoun, lalu diadili di Republik Rakyat Donetsk yang mendeklarasikan kemerdekaan sendiri. Saat itu, ketiganya diberi tahu bahwa menghadapi hukuman mati.

Saat mendapatkan vonis itu, Aslin mengaku ingin menangis, tapi tidak bisa. 

"Ini benar-benar masalah bertahan hidup," katanya.

Pengakuan Tahanan Perang Rusia, Diperlakukan Lebih Buruk dari Seekor Anjing - Foto 1
 John Harding, Shaun Pinner dan Aiden Aslin (gambar kiri ke kanan) termasuk di antara lima tawanan perang yang dibebaskan-AIDEN ASLIN

Selama berada penjara, Aslin ditahan di dalam sel untuk dua orang, dan tidur di tikar yang dipenuhi kutu dan kecoak. Tidak sampai disitu, di sel itu, Aslin dan lainnya harus hidup tanpa toilet-fasilitas yang harusnya menjadi hal wajib. 

Berhubung tidak ada toilet, dia dan sesama narapidana akhirnya menggunakan botol kosong.

"Kami tidak bisa ke toilet karena kami tidak punya toilet." 

Aslin mengatakan dia bertahan selama tiga minggu dengan memakan potongan roti dan air. Dengan kondisi itu, Aslin yang sudah tidak tahan akhirnya mengemis agar para penjaga memberi mereka air keran.

Satu-satunya kesempatan Aslin dikeluarkan dari selnya adalah untuk melakukan propaganda atau menerima telepon.

"Ada jendela di sel, tapi tidak ada yang melindungi kita dari elemen luar," tambah Aslin, menjelaskan bahwa kondisi itu menyebabkan cuaca menjadi sangat dingin di musim dingin.

Aslin melanjutkan bahwa dia dipukul ketika paspornya diperiksa oleh seorang tentara Rusia dan ketahuan kalau dia berasal dari Inggris.

"Segera setelah saya mengatakan tentara Inggris, saya langsung menerima pukulan di hidung," katanya.

Pada satu titik, Aslin mendapatkan ancaman bahwa telinganya akan dipotong. Dia dipukuli karena memiliki tato trisula Ukraina dan tato lain yang mengacu pada pengalamannya berada di Suriah.

Sementara, saat mengingat kejadian ketika ditikmn dari belakang dengan pisau, Aslin berkata: "Saya tahu ada kemungkinan yang sangat tinggi bahwa saya akan dibunuh."

Dia kemudian ditanya oleh seorang pria Rusia yang menjaganya, "Apakah Anda ingin kematian yang cepat atau kematian yang indah?"

Jawaban dari pertanyaan itu adalah bahwa Aslin memilih untuk 'mati dengan cepat'. Namun, penjaga Rusia itu justru berbicara soal kematian yang indah, yang mana tidak diketahui secara pasti cara apa yang dia maksud.

"Anda akan memiliki kematian yang indah dan saya akan memastikan itu adalah kematian yang indah," kata Aslin mengutip ucapan pria Rusia tersebut.

Minggu ini, Aslin berhasil bersatu kembali dengan ibu dan tunangannya. Namun, memori buruk saat ia menjadi tahanan Rusia kini harus melekat erat dalam ingatannya. 

"Saya tidak pernah berpikir saya akan keluar hidup-hidup," ucap Aslin. []