Lifestyle

Penelitian Ungkap Cacar Monyet Telah Bermutasi dan Lebih Menular

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa monkeypox atau cacar air telah bermutasi dan lebih menular


Penelitian Ungkap Cacar Monyet Telah Bermutasi dan Lebih Menular
Australia telah mengumumkan kemungkinan kasus pertama dari infeksi cacar monyet. Sementara Kanada telah mengkonfirmasi dua kasus pertamanya ( Cynthia S Goldsmith, Russell Regner/CDC via AP Photo)

AKURAT.CO Kasus monkeypox atau cacar air belum terdeteksi di Indonesia. Meski begitu, wabah ini tidak boleh diabaikan karena penelitian menunjukkan bahwa cacar air telah bermutasi dan lebih menular.

Ini berbeda dengan virus yang ditemukan di wilayah Afrika. Hal ini diungkapkan oleh Prof Tjandra Yoga Aditama, merujuk pada laporan Center for Infectious Diseases and Research Policy (CIDRAP) dengan judul 'Virus Causing Monkeypox Outbreak Has Mutated to Spread Easier' pada 24 Juni 2022. 

"Disebutkan bahwa berdasar artikel ilmiah di jurnal Nature Medicine 24 Juni dimana virus penyebab monkeypox sekarang di negara nonendemik ternyata berbeda dari yang asalnya di  beberapa negara Afrika," kata Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangan resminya kepada AKURAT.CO, Senin (27/6/2022). 

baca juga:

Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan penelitian tersebut menunjukkan data sekuensing 3000 kasus di Eropa dan Amerika. Penelitinya menemukan perbedaan di 50 tempat single nucleotide polymorphisms (SNPs), dan beberapa mutasi pula. Penelitinya ini juga menyebut peran super spreader sebagai salah satu penyebab penularan di masyarakat.

Prof Tjandra Yoga Aditama juga menyinggung soal artikel  Lancet Microbe, dimana dibuat  modeling penyebaran kasus bila negara tidak melakukan penanganan kesehatan masyarakat dengan tepat.

"Diperkirakan kalau ada 3 kasus saja maka akan terjadi penularan ke 18 kasus, kalau 30 kasus maka akan menjadi 118 orang dan seterusnya," ujarnya.

Kalau dilakukan dengan baik proses identifikasi, penelusuran kontak, isolasi surveillants dan dilakukan ring vaccination (vaksinasi sekitar) maka jumlah kasus sekunder akan turun hingga 81 persen. 

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja menyatakan bahwa cacar monyet bukan masalah darurat kesehatan global. Keputusan ini ditetapkan oleh PBB setelah mendapat saran dari pertemuan para ahli internasional.

Meskipun begitu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan keprihatinannya atas wabah tersebut. Tedros mengingatkan bahwa cacar monyet ini tidak boleh diabaikan karena menyebar dengan cepat di negara-negara di mana virus itu biasanya tidak ditemukan.

"Saya sangat prihatin dengan wabah cacar monyet, ini jelas merupakan ancaman kesehatan yang berkembang yang diikuti oleh rekan-rekan saya dan saya di Sekretariat WHO," kata Tedros.