News

Penelitian Baru Ungkap Tes Urine Dapat Prediksi Risiko Tingkat Keparahan COVID-19

Potensi COVID-19 yang parah dapat diprediksi melalui pemeriksaan sitokin pada urine pasien.


Penelitian Baru Ungkap Tes Urine Dapat Prediksi Risiko Tingkat Keparahan COVID-19
Ilustrasi tes urine.

AKURAT.CO, Tes urine sederhana ternyata dapat memprediksi apakah orang yang terinfeksi COVID-19 berpotensi semakin parah atau tidak. Penemuan ini diungkapkan oleh tim peneliti dari Wayne State University, Detroit, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (27/4).

Dilansir dari United Press International (UPI), mereka yang terinfeksi virus corona punya jenis protein tertentu yang terkait dengan peradangan yang jumlahnya lebih tinggi dalam urine dibandingkan mereka yang tak terjangkit virus. Jumlah protein yang disebut sitokin ini juga lebih tinggi pada pasien dengan kondisi kesehatan kronis yang sudah ada sebelumnya, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes. Mereka dengan penyakit penyerta ini dianggap berisiko lebih tinggi terkena COVID-19 yang parah, menurut tim peneliti.

Dalam seluruh kasus, tingkat sitokin ini turun ke kisaran normal setelah infeksi sembuh.

"Kami telah mengamati, meski hanya dalam kelompok kecil pada pasien yang kami periksa, tingkat sitokin urine meningkat seiring perkembangan infeksi dan menurun saat infeksi sembuh. Ini menunjukkan bahwa tanda sitokin urine berpotensi memiliki nilai diagnostik dan prognostik," terang Dragana Komnenov, salah satu penulis penelitian ini.

Banyak orang yang menderita penyakit COVID-19 serius mengalami 'badai sitokin'. Dalam kondisi ini, tubuh memproduksi protein tersebut ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan peradangan di berbagai organ, termasuk paru-paru, jantung, dan otak.

Tes urine untuk kadar sitokin biasanya digunakan guna memeriksa sejumlah penyakit, termasuk infeksi saluran kemih, dan sistitis interstisial, menurut LabTestsOnline.org, pandungan daring untuk tes diagnostik bagi konsumen. Dalam penelitian ini, Komnonev dan rekannya membandingkan kadar sitokin urine pada 17 pasien COVID-19 dan 10 pasien tanpa virus corona. Hasilnya, tingkat dua sitokin, onkogen pengatur pertumbuhan, dan interleukin-6 (IL-6) meningkat signifikan pada mereka yang terinfeksi virus corona dibandingkan dengan yang tidak.

Mereka yang kesehatannya lebih buruk karena penyakit kronisi yang sudah ada sebelumnya pun memiliki tingkat sitokin urine tertinggi.

"Studi kami menunjukkan bahwa kami dapat mendeteksi biomarker spesifik peradangan dalam urine pasien COVID-19. Hal ini pun dapat memberi kami gambaran tentang status infeksi pasien," tutur Komnenov.

Namun, tim ilmuwan tersebut masih harus mengonfirmasi tren sitokin urine ini dalam kelompok pasien yang lebih besar.

Hasil penelitian ini dipresentasikan pada Selasa (27/4) dalam pertemuan tahunan American Physiological Society. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu