Ekonomi

Peneliti: Impor Gula Perlu Perbanyak Keterlibatan Swasta

Demi efisiensi impor gula dalam memenuhi permintaan domestik dan menstabilkan harga, pemerintah perlu meningkatkan keterlibatan sektor swasta.


Peneliti: Impor Gula Perlu Perbanyak Keterlibatan Swasta
Ilustrasi : produksi gula (asosiasigulaindonesia.org)

AKURAT.CO Demi efisiensi impor gula dalam memenuhi permintaan di dalam negeri dan dapat menstabilkan harga komoditas ini, pemerintah perlu meningkatkan keterlibatan sektor swasta. Demikian hasil sebuah penelitian memperlihatkan.

“Dalam lima tahun pertama sebaiknya pemerintah merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 117 Tahun 2015 pasal lima ayat dua tentang pemberian lisensi impor dan membuka importasi gula tidak saja kepada BUMN tetapi juga kepada importir swasta yang memenuhi syarat,” ungkap peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arumdriya Murwani lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (10/4/2022).

Menurut penelitian CIPS ini, pelaku usaha lebih tanggap dengan dinamika pasar gula, baik domestik dan internasional, sehingga dapat membuat keputusan impor yang sesuai dengan kondisi ketersediaan gula di Indonesia.

Industri gula Indonesia dikendalikan dan diatur oleh pemerintah. Berdasarkan Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 14/2020 tentang Ketentuan Impor Gula, terdapat tiga klasifikasi gula impor, yaitu gula mentah untuk kilang gula dalam negeri, gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman dalam negeri dan gula putih untuk konsumsi dalam negeri.

Indonesia hanya mengizinkan sektor swasta untuk ikut serta dalam impor gula mentah dan rafinasi untuk keperluan kilang gula dalam negeri dan industri sementara hak impor gula kristal putih diberikan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain meningkatkan peran swasta dalam impor gula, penelitian juga merekomendasikan agar pemerintah juga meningkatkan kepesertaan pelaku usaha, asosiasi industri dan produsen dalam proses perumusan kebijakan yang berkaitan dengan impor gula.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi dalam Diskusi Panel Ketersediaan dan Stabilisasi Harga Pokok mengatakan, pemerintah memperkirakan kebutuhan gula untuk periode Januari-Mei 2021 akan mencapai 1.218.964 ton sementara stok dan produksi nasional diperkirakan sebesar 940.480 ton di bulan Desember 2020.

Selisih antara kemampuan pengadaan gula dalam negeri dengan prediksi kebutuhan, sebesar 278.484 ton, akan dipenuhi oleh impor, namun kenyataannya, rencana impor gula pemerintah untuk kebutuhan konsumsi untuk periode lima bulan pertama tahun 2021 ini malahan mencapai 646.944 ton.

Jumlah impor yang jauh lebih besar dari kebutuhan inilah yang menjadi dasar protes para pemangku kepentingan di sektor gula domestik. Surplus gula dikhawatirkan akan mengganggu harga jual gula di pasaran dan merugikan petani tebu.

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu