News

Pendiri NU Hilang dari Kamus Sejarah, Fadli Zon: Harus Diinvestigasi!

Fadli minta harus segera dibuat investigasi kenapa tokoh penting KH Hasyim Asy’ari pencetus Resolusi Jihad bisa hilang


Pendiri NU Hilang dari Kamus Sejarah, Fadli Zon: Harus Diinvestigasi!
Wakil Ketua DPR Fadli Zon mendengarkan penjelasan dari terdakwa kasus dugaan pelanggaran UU ITE Buni Yani saat melakukan pertemuan di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Kamis (2/11). Pertemuan tersebut guna menyampaikan perkembangan kasus dan rencana mengundang Fadli Zon hadir dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri Bandung pada 14 November mendatang (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Politikus sekaligus anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon merespon hilangnya nama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari dalam Kamus Sejarah.

Sebagaimana dikutip AKURAT.CO dalam akun Twitter @fadlizon, dirinya mendesak agar dilakukan investigasi atas hilangnya nama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I. 

Fadli Zon dalam cuitannya juga menduga ada yang ingin membelokkan sejarah.

"Harus segera dibuat investigasi kenapa tokoh penting KH Hasyim Asy’ari pencetus Resolusi Jihad bisa hilang, sementara yang komunis bisa ada. Ini masalah serius. Ada yang hendak membelokkan sejarah," tulis Fadli, pada Senin (20/4/2021).

Ustaz Haikal Hassan juga berkomentar terkait hal tersebut, ia meminta untuk menyelidiki dan mencari dalang hilangnya nama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari dalam Kamus Sejarah.

"Buku Kamus Sejarah Kemendikbud baru: Hal.51: Darsono Notosudirjo-Komunis, Hal.58: DN.Aidit-Komunis, Hal.87: Henk Sneevliet-Komunis, Hal.262:Samaoen-Komunis, Pendiri NU, HadratusSyaikh KH.Hasyim Asy'ari. Halaman berapa???? Ini kenapa pada diam? Ada apa dengan bangsa ini? Cari dalangnya!" kata @haikal_hassan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid mengatakan Kemendikbud selalu berefleksi pada sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang ikut membangun Indonesia, termasuk Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dalam mengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan," kata Hilmar.

Meluruskan tudingan yang dimaksud kalangan tersebut, Hilmar menjelaskan bahwa buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I tidak pernah diterbitkan secara resmi.

"Dokumen tidak resmi yang sengaja diedarkan di masyarakat oleh kalangan tertentu merupakan salinan lunak (softcopy) naskah yang masih perlu penyempurnaan. Naskah tersebut tidak pernah kami cetak dan edarkan kepada masyarakat”.

Lebih lanjut, ia juga mengatakan naskah buku tersebut disusun pada tahun 2017, sebelum periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim.

"Selama periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, kegiatan penyempurnaan belum dilakukan dan belum ada rencana penerbitan naskah tersebut,” jelasnya.[]

Erizky Bagus

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu