Ekonomi

Pendiri Evergrande Minta Belas Kasihan Pemerintah Guangdong, Gara-gara Enggak Sanggup Bayar Utang!

Krisis utang yang melanda Evergrande, salah satu perusahaan properti raksasa dari Tiongkok yang memiliki total liabilitas sekitar US$305 miliar


Pendiri Evergrande Minta Belas Kasihan Pemerintah Guangdong, Gara-gara Enggak Sanggup Bayar Utang!
Krisis China Evergrande (AKURAT.CO)

AKURAT.CO Krisis utang yang melanda Evergrande, salah satu perusahaan properti raksasa dari Tiongkok yang memiliki total liabilitas sekitar US$305 miliar dikhawatirkan dapat meruntuhkan stabilitas keuangan Tiongkok maupun global.

Hal ini terjadi karena buruknya sistem yang telah sekian lama dijalankan perusahaan properti di Tiongkok, dimana perusahaan memanfaatkan utang sebesar-besarnya sebagai modal kerja usaha sehingga menyebabkan pemerintah Tiongkok menerapkan kebijakan baru yang disebut ‘three red lines’.

Ketua pengembang properti Evergrande, Hui Ka Yan baru saja dipanggil oleh pemerintah provinsi Guangdong Jumat malam pekan lalu setelah perusahaan yang berutang banyak itu memperingatkan tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya.

Evergrande yang terdaftar di Hong Kong, sekarang hampir runtuh di bawah total kewajiban utang lebih dari US$300 miliar (Rp4.331 triliun). Pihak berwenang di Guangdong, tempat Evergrande bermarkas, setuju untuk mengirim "kelompok kerja" untuk membantu perusahaan "menyelesaikan risiko, memperkuat kontrol internal, dan mempertahankan operasi normalnya."

Melansir Forbes di Jakarta, Senin (6/12/21) pemerintah Guangdong juga memperhatikan peringatan terbaru Evergrande. Dalam pengajuan bursa pada 3 Desember, perusahaan mengatakan telah menerima permintaan untuk membayar kreditur sebesar US$260 juta (Rp3,7 triliun).

“Mengingat status likuiditas grup saat ini, tidak ada jaminan bahwa grup akan memiliki dana yang cukup untuk terus melakukan kewajiban keuangannya,” kata Evergrande dalam pengajuan.

“Jika grup tidak dapat memenuhi kewajiban penjaminan atau kewajiban keuangan tertentu lainnya, hal itu dapat menyebabkan kreditur menuntut percepatan pembayaran,” tambah perusahaan.

Sementara itu, Otoritas China sibuk mengeluarkan pernyataan untuk meyakinkan investor. Regulator di China Banking and Insurance Regulatory Commission, China Securities Regulatory Commission, serta bank sentral negara, People's Bank of China, baru-baru ini menerbitkan pernyataan terpisah terkait Evergrande.

Bank sentral mengatakan dalam sebuah pernyataan online bahwa mereka akan bekerja dengan pemerintah Guangdong dan departemen pemerintah terkait untuk membantu menyelesaikan risiko dan mempromosikan pengembangan pasar properti negara yang stabil dan sehat.

“Krisis Evergrande terutama akibat salah urus dan ekspansi butanya sendiri,” kata PBOC dalam pernyataannya. “Risiko masing-masing perusahaan tidak akan memengaruhi penggalangan dana pasar normal dalam jangka menengah hingga panjang.”[]

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.