Ekonomi

Pendekatan Isu Pertanian Harus Utamakan Kearifan Lokal

Sektor pertanian RI tahun 2020 menghadapi sejumlah permasalahan seperti kelangkaan pupuk subsidi, ekspor dan impor beras, dan minimnya infrastruktur pertanian.


Pendekatan Isu Pertanian Harus Utamakan Kearifan Lokal
Petani memanen sayuran bayam dari sawah yang ada di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (2/1). Musim hujan di kawasan ini membuat panen bayam terus meningkat. Bayam ini nantinya akan dijual ke ipasar kawasan Tangerang dengan harga jual setiap ikatnya dua ribu rupiah. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Sektor pertanian Indonesia tahun 2020 menghadapi sejumlah permasalahan seperti kelangkaan pupuk subsidi, ekspor dan impor beras, dan minimnya infrastruktur pertanian. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi menegaskan perlu menggunakan pendekatan kearifan lokal dalam menyelesaikan isu tersebut.

Dirinya menerangkan bahwa pendekatan kearifan lokal berupa pendekatan yang memanfaatkan pengetahuan, budaya, dan tradisi bercocok tanam berdasarkan situasi dan kondisi geografis petani setempat. Diharapkan dengan menggunakan pendekatan ini, para petani bisa menjadi lebih berdaya dan mandiri

“Selain pendekatan akademik, kearifan lokal harus diutamakan dalam menyelesaikan masalah pertanian di Indonesia. Kalau paradigma tidak diubah, bagaimana kita lolos dari tantangan ini? Kalau salah pendekatan, nanti jadi salah paham, lalu jadi salah eksekusi,” ucapnya pada saat Rapat Dengar Pendapat bersama Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin (25/1/2021).

Di sisi lain, Dedi juga menyarankan agar beberapa pengadaan dalam program kerja Kementan tahun 2021 perlu dialihkan menjadi program bantuan keuangan, supaya masyarakat terutama para petani jadi lebih aktif menemukan solusi secara mandiri. Ia melihat akan jauh lebih mudah dan sederhana menyelesaikan masalah dengan mendanai program yang sudah diberdayakan masyarakat sendiri.

“Mengapa tidak dibuat pola bantuan keuangan saja? Akan lebih baik, memberi bantuan berupa dana untuk program yang berdayakan masyarakat tani setempat yang sudah berjalan? Dampaknya, birokrasi jadi lebih sederhana, perputaran ekonomi di masyarakat lebih cepat berputar. Keuntungannya pun jadi lebih terserap ke masyarakat, bukan ke pengusaha tertentu,” ucapnya.

Dedi berharap ke depannya, Kementan bisa bersinergi dengan berbagai pemangku kebijakan untuk menyelesaikan sejumlah isu dengan lebih efektif dan efisien. Berdasarkan paparan Mentan Syahrul Yasin Limpo, ada lima program Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kementan tahun 2021 guna mencegah timbulnya kekhawatiran soal produksi, distribusi, dan akses pangan.

RKP Kementan itu meliputi: Program Ketersediaan Akses dan Konsumsi Pangan Berkualitas; Program Nilai Tambah dan Daya Saing Industri; Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi; dan Program Dukungan Manajemen. Hadirnya lima program ini rencananya akan fokus pada penyediaan pangan dan menciptakan daya saing produk pertanian Indonesia. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co