Lifestyle

Pencabutan 73 Obat Sirup, Kasus Gagal Ginjal Akut Anak Landai

Pencabutan 73 Obat Sirup, Kasus Gagal Ginjal Akut Anak Landai
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX di Nusantara I, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Senin (4/7/2022). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Kasus gagal ginjal akut pada anak perlahan menurun. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin.

Budi menjelaskan, dalam waktu 9-10 hari pihaknya tidak menerima laporan terkait adanya kasus baru gagal ginjal akut pada anak ini, setelah izin edar 73 merek obat sirup dicabut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

"Jadi sejak itu (73 obat sirup oleh BPOM) dilarang, itu (kasus gagal ginjal aku anak) benar-benar turun drastis dan mungkin bukan hanya delapan (hari). Sudah 9-10 hari itu tidak ada kasus baru," ujar Budi ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Jakarta dikutip pada Minggu (13/11/2022).

baca juga:

Budi mengatakan, pelarangan beberapa obat tersebut efektif untuk mengendalikan kasus gagal ginjal akut pada anak. 

Lebih lanjut, pasien yang meninggal dunia juga menurun drastis. Bahkan kasus meninggal terakhir tercatat hanya satu.

"Jadi kasus (pasien meninggal) yang lama, karena kondisinya sudah parah. Kita sudah nggak bisa obati (meninggal), masih ada," kata Budi.

Sementara itu, pasien rawat inap juga terlihat berkurang. Dari 120-an kini menjadi 20-an. Budi menuturkan bahwa Indonesia kini sudah melewati fase puncak kasus gangguan ginjal pada anak ini

"Sekarang yang dirawat tinggal 24-an, 22-an dan itu kondisinya relatif membaik," pungkas Budi.

Sejauh ini, BPOM telah mencabut izin edar 73 merek obat sirup. Obat-obatan tersebut diduga mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang melebihi ambang batas aman. Kedua zat tersebut disebut-sebut menjadi salah satu pemicu gagal ginjal akut.

Adapun 73 obat ini berasal kelima perusahaan farmasi, antara lain:

PT Yarindo Farmatama

PT Universal Pharmaceutical Industries

PT Afi Farma

PT Samco Farma

PT Ciubros Farma

Sebagai tindak lanjut, BPOM telah melakukan penghentian produk obat sirup yang diproduksi oleh lima farmasi tersebut dan akan diproses secara pidana.

"Kepada PT CF dan PT SF, BPOM memerintahkan penarikan sirup obat dari peredaran di seluruh Indonesia dan pemusnahan terhadap seluruh produk sirup obat yang mengandung cemaran EG dan DEG melebihi ambang batas, serta larangan produksi dan distribusi seluruh sirup obat dari kedua industri farmasi tersebut," demikian keterangan resmi BPOM RI beberapa waktu lalu.

Di samping itu, pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) juga menunggu imbauan dari BPOM RI soal penggunaan obat sirup di luar daftar tersebut.