Ekonomi

Penambang Skala Kecil Turut Terdampak Pandemi Covid-19

Pekerjaan sebagai penambang, baik formal maupun informal, disinyalir diminati karena dirasa memberikan hasil yang (terkadang) besar dan cepat


Penambang Skala Kecil Turut Terdampak Pandemi Covid-19
Ilustrasi - Pertambangan (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO Pekerjaan sebagai penambang, baik formal maupun informal, disinyalir diminati karena dirasa memberikan hasil yang (terkadang) besar dan cepat meskipun ada risiko kesehatan dan keselamatan yang sangat tinggi, seperti kontaminasi zat berbahaya dan kecelakaan kerja akibat penggunaan perlengkapan keselamatan yang sangat minim.

Komunitas penambang skala kecil pun tersebar luas di Indonesia meskipun jumlahnya tidak pernah terdokumentasi dengan baik.Adapun perempuan dan anak muda adalah bagian dari komunitas penambang skala kecil.

" Mereka menjalankan berbagai macam peran untuk berkontribusi pada ekonomi rumah tangga; ada yang  menjadi penambang aktif, ada pula yang berwirausaha untuk membantu pasangan atau orang tua  mereka yang bekerja sebagai penambang," tutur Direktur Eksekutif Women in Mining & Energy (WiME) Maya Muchlis.

Dalam konteks pandemi Covid-19 saat ini, perempuan dan anak muda menjadi salah satu kelompok masyarakat yang menerima dampak cukup berat. Kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan mata pencaharian mereka berkurang, bahkan hilang akibat kegiatan penambangan yang dikurangi atau terhenti. 

" Dalam kondisi krisis dimana anggota dewasa dalam rumah tangga harus berhenti bekerja akibat pandemi, seringkali perempuan dan anak muda menjadi  tumpuan utama dalam mencari mata pencaharian alternatif sebagai upaya pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga," terangnya.

Penambang Skala Kecil Turut Terdampak Pandemi Covid-19 - Foto 1

Sekadar informasi, untuk mengkaji dampak Covid-19 terhadap kehidupan komunitas penambang skala kecil dan  memberikan ruang beraspirasi bagi kelompok tersebut, Women in Mining and Energy (WiME) danYayasan Tambuhak Sinta (YTS) melaksanakan program pelatihan Photovoice dengan dukungan pendanaan dari Extractives Global Programmatic Support (EGPS) Trust Fund yang dikelola oleh Bank Dunia. Program ini dilaksanakan di tiga lokasi yaitu Kabupaten Gunung Mas (Kalimantan Tengah), Kota Sawahlunto (Sumatera Barat), dan Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat).

Tema diskusi nasional kali ini adalah “Tantangan dan Peluang Bagi Perempuan dan Anak Muda di Komunitas Penambang Skala Kecil Saat Pandemi”. 

Diskusi ini dimaksudkan untuk mengkaji serta mengidentifikasi peluang, hambatan, dan rekomendasi dari berbagai pihak terkait dalam upaya meningkatkan kesejahteraan komunitas penambang skala kecil.

Turut diundang sebagai pembicara dalam kegiatan diskusi nasional ini adalah Dr. Lana Saria, S.Si., M.Si - Direktur Teknik dan LingkunganDirjen Mineral dan Batubara di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Eni Widiyanti - AsistenDeputi Bidang Kesetaraan Gender di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Balada Amor, Ph.D Spesialis Tambang Senior di Bank Dunia, dan Asep Sopari, S.P Ketua DPRD  Kabupaten Tasikmalaya.[]