Ekonomi

Pemisahan Kamar Anak dan Orang Tua Bukan sebuah Pilihan


Pemisahan Kamar Anak dan Orang Tua Bukan sebuah Pilihan
Gambar kamar anak-anak dengan warna cat yang bagus (ISTIMEWA)

AKURAT.CO Pemerintah saat ini tengah menyusun Rancangan Undang-undang (RUU) Ketahanan Keluarga. Dari draf tersebut, ada pasal yang mengatur pemisahan kamar antara orang tua dengan anaknya dan antara anak laki-laki dengan anak perempuan.

Menanggapi hal tersebut, Peneliti Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia Diahhadi Setyonaluri menjelaskan, pemisahan kamar anak dengan orang tua dianggap sebagai salah satu cara meningkatkan kemandirian anak.

Sementara pemisahan kamar anak laki-laki dan perempuan dapat dilakukan jika anak memulai memasuki usia remaja karena keduanya memiliki kebutuhan yang berbeda.

"Namun, pemisahan kamar atau ruang tidur tersebut tentunya hanya relevan bagi keluarga yang memiliki sumber daya dan lahan memadai untuk mencukupi kebutuhan tersebut," ucapnya melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu (1/3/2020).

Data BPS 2018 juga menunjukkan bahwa 9,35 persen rumah tangga di Indonesia mengontrak atau menyewa rumah. Mengontrak rumah yang lebih besar mungkin bisa dijadikan solusi bila keluarga memutuskan untuk memiliki kamar terpisah untuk setiap anggota keluarga. Tetapi hal ini tentunya hanya berlaku bagi kelompok menengah keatas yang memiliki sumber daya serta memiliki akses ke informasi tentang sewa rumah besar.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah dengan tiga kamar, bisa jadi pencari rumah terpaksa memilih lokasi lebih jauh agar harganya terjangkau.

Jika mengikuti teori Bid Rent dalam Ekonomi Perkotaan, semakin jauh lokasi perumahan dari Central Business District (CBD), maka harga rumah akan semakin murah. Namun, rumah tangga menghadapi biaya transportasi yang besar, baik dalam bentuk biaya dan juga waktu, akibat jarak yang jauh menuju lokasi kerja yang umumnya terletak di CBD.

Kaum pekerja perempuan, waktu commuting-nya akan mengurangi waktu di rumah untuk mengurus anak dan rumah tangga. Mereka juga harus menanggung biaya transportasi yang besar karena lokasi yang jauh dan juga perlu ditempuh dengan multimoda. Perempuan juga akan cenderung memilih moda transportasi yang aman dari kejahatan dan pelecehan, seperti taksi atau ojek online, terutama bila harus pulang malam hari.

"Hal ini berdampak pada tambahan biaya transportasi. Sementara saat ini masih ada kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan yang masih cukup besar, sehingga gaji perempuan tidak akan cukup mengkompensasi biaya pengasuhan anak, biaya transportasi dan juga waktu yang hilang akibat commuting," jelas Diahhadi.

Selain itu, dengan adanya peran gender yang masih tidak setara di rumah tangga, maka waktu commuting yang lama juga akan menambah beban perempuan karena sepulang dari bekerja, perempuan masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sehingga, hal ini akan meningkatkan peluang perempuan untuk berhenti bekerja.

Masih kata Diahhadi, bagi masyarakat Indonesia, dengan masih besarnya jumlah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan penduduk miskin, maka pemisahan kamar anak dan orang tua bukanlah sebuah pilihan.

"Yang lebih penting adalah bagaimana rumah atau tempat tinggal keluarga layak dalam arti sehat, ada akses sumber air bersih, memiliki sanitasi yang baik, serta penerangan yang memadai. Bagi kelas menengah atas, opsi pemisahan kamar anak bisa dipertimbangkan dan disesuaikan dengan situasi orang tua dan kebutuhan anak,” pungkas Diahhadi. []