Ekonomi

Pemilik Polis Hampir 75 juta Orang, AAJI: Selisih Klaim Kerap Jadi Masalah

Pemilik Polis Hampir 75 juta Orang, AAJI: Selisih Klaim Kerap Jadi Masalah
Media Workshop AAJI (AAJI)

AKURAT.CO Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebutkan mulai semakin besarnya jumlah konsumen asuransi jiwa di Indonesia saat ini, sehingga hal ini harus di imbangi peningkatan pengetahuan soal aspek hukum, produk hingga aspek perlindungan.

Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mengatakan, rendahnya tingkat asuransi ini sering kali menimbulkan adanya kesalahpahaman serta adanya perselisihan antara konsumen dan perusahaan.

"Rendahnya tingkat literasi asuransi sering kali menimbulkan kesalahpahaman hingga perselisihan antara konsumen dan perusahaan," ungkap Budi dalam keterangan resminya, Senin (3/10/2022).

baca juga:

Budi mengatakan, saat ini pembayaran klaim dan manfaat industri asuransi jiwa telah mencapai Rp89,93 triliun kepada 6,05 juta jiwa tertanggung per Juni 2022. Selain itu, di periode yang sama, jumlah tertanggung industri asuransi jiwa turut tumbuh sebesar 19,1 persen menjadi 73,9 juta orang.

“Pertumbuhan total klaim dan jumlah tertanggung ini tentunya harus diikuti penguatan komitmen perusahaan asuransi kepada konsumen sebagai bentuk tanggung jawab hukum perusahaan,” ulasnya.

Dalam pernyataan yang sama, Direktur Pengawasan Asuransi dan BPJS Kesehatan OJK, Supriyono mengungkapkan sebagai upaya memperkuat perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menerbitkan dua pembaruan aturan yaitu POJK Nomor 6 tahun 2022 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan; dan SEOJK Nomor 5 Tahun 2022 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi. 

“OJK sudah menerbitkan ketentuan pembaharuan tentang perlindungan konsumen dan pemasaran Unit Link. Tentu ini sangat positif, karena kita sadari bahwa perlindungan konsumen itu yang pertama diperhatikan yaitu literasi, kedua literasi dan yang ketiga pun masih literasi, karena itulah cara terbaik untuk melindungi konsumen kita,” tuturnya. 

Dengan demikian, OJK pun sangat menyadari perlindungan konsumen itu harus sangat mengedepankan literasi karena hal tersebut yang paling utama untuk melindungi konsumen dari hal-hal yang tidak di inginkan. []