News

Pemerintah Tebar Benih Ikan di Sungai Malinau dan Sanksi Perusahaan Pencemar

Gubernur dan Wagub Kalimantan Utara turut menebar benih ikan dan udang di Sungai Malinau


Pemerintah Tebar Benih Ikan di Sungai Malinau dan Sanksi Perusahaan Pencemar
Sejumlah warga yang tergabung dalam Komunitas Ciliwung Condet menebar benih ikan di Aliran Sungai Ciliwung, Balekambang Condet, Jakarta Timur, Selasa (16/7/2019). Kegiatan menebar 300 ribu benih ikan tersebut dilakukan dalam rangka Bulan Bakti Karantina dan Mutu Hasil Perikanan, serta Pelestarian Ekosistem Sungai Ciliwung. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Sebanyak 250 ribu benih ikan dan udang ditebar di Sungai Malinau, Desa Long Loreh, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Sabtu (17/04/2021).

Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara Yansen TP ikut menebar benih ikan ke sungai dalam acara tebar benih ikan yang dihadiri pula oleh anggota DPD RI Marthin Billa, Pelaksana Harian Bupati Malinau Ernes Silvanus, serta tokoh adat setempat.

Zainal mengatakan bahwa benih ikan baung, patin, dan koan serta udang galah yang ditebar di Sungai Malinau didatangkan dari balai benih yang ada di Yogyakarta dan Sukabumi oleh PT Kayan Putra Utama Coal (KPUC).

Gubernur juga mengatakan bahwa PT KPUC sudah memperbaiki tanggul kolam limbah tambangnya yang jebol dan menyebabkan air Sungai Malinau tercemar.

Menurut Gubernur, air Sungai Malinau saat ini masih dalam kategori aman dan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan air sungai itu tidak mengandung bahan berbahaya atau beracun.

"Jebolnya tanggul KPUC murni musibah dan sudah diatasi dengan baik oleh perusahaan. Jebolnya tanggul ini telah diinvestigasi oleh instansi pusat dan daerah," katanya.

Seorang warga Desa Loreh, Amos (54), mengatakan bahwa sebelumnya ada limpasan air limbah tambang yang masuk ke sungai sehingga air sungai menjadi keruh. Namun dia tetap mengambil ikan patin dari sungai itu untuk konsumsi keluarganya.

Direktur Operasional PT KPUC Soesanto mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir perusahaan menggunakan jasa kontraktor dari Jakarta untuk mengolah limbah tambang secara modern dengan teknologi yang ramah lingkungan.

Pada awal Februari, tanggul kolam limbah perusahaan batubara PT KPUC jebol dan menyebabkan air Sungai Malinau dan Sesayap tercemar.

Pemerintah Kabupaten Malinau kemudian mengeluarkan sanksi berupa paksaan pemerintah kepada perusahaan untuk memperbaiki tanggul yang jebol, mengatasi masalah limbah dengan melibatkan ahli yang kompeten, mengganti ikan yang mati, melakukan inspeksi tanggul secara berkala, dan membuat sistem penanganan dini penanganan tanggul jebol.[]

Sumber: Antara

Arief Munandar

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu