Ekonomi

Pemerintah Putar Otak Kurangi Risiko Kecelakaan Kapal di Selat Malaka dan Singapura

Kemenko Marves mengadakan rapat koordinasi untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan Maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura.


Pemerintah Putar Otak Kurangi Risiko Kecelakaan Kapal di Selat Malaka dan Singapura
Bakamla RI-Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) saat melakukan Operasi Patkor Optima di Selat Malaka dari Selasa (7/8) hingga Jumat (10/8).

AKURAT.CO Kondisi keselamatan pelayaran di sekitar Selat Malaka dan Selat Singapura tahun lalu cukup membuat prihatin. Sepanjang tahun 2020, telah terjadi tiga kali kejadian kapal kandas di perairan Batu Berhenti, Provinsi Kepulauan Riau.

Hal ini menjadi perhatian serius pemerintah. Pada hari Jumat (26 Februari 2021), di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mengadakan rapat koordinasi untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan Maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura.

"Hari ini kita bahas jaminan keamanan dan keselamatan kapal di Selat Malaka dan Singapura, khususnya bagaimana mengoptimalkan pelayanan pemanduan demi mengurangi risiko kecelakaan," kata Staf Ahli Menteri Bidang Hukum Laut Okto Irianto lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (28/2/2021).

baca juga:

Secara detail, rakor membahas mengenai kerja sama pengelolaan Selat Malaka dan Singapura, regulasi, penyelenggaraan kenavigasian, serta rekomendasi peningkatan kualitas layanan pandu kapal.

“Kecelakaan yang dialami MV Shahraz, MV Samudra Sakti I, dan MV Tina I yang terjadi sepanjang tahun lalu perlu menjadi perhatian Indonesia sebagai negara berdaulat. Jaminan keselamatan navigasi bagi kapal yang berlayar melalui perairan Indonesia serta perlindungan lingkungan maritim adalah salah satu bentuk perwujudan kedaulatan Indonesia,” ujar Penasehat Khusus Menko Bidang Hankam Maritim Marsetio.

Diplomat Muda dari Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rama Kurniawan mengatakan, keselamatan navigasi dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura selama ini dikelola melalui kerja sama antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura melalui Kelompok Ahli Teknis Tiga Negara (Tripartite Technical Expert Group/TTEG). Kelompok ahli ini telah terbangun sejak 1977.

"Sejak 2007, pola kerja sama diperkuat dengan adanya Mekanisme Kerja Sama (Cooperative Mechanism/CM) yang mempertemukan tiga negara pantai tersebut dengan Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) dan anggota komunitas maritim dunia lainnya," tambahnya.

Salah satu bentuk upaya meningkatkan keselamatan pelayaran khususnya di wilayah Selat Malaka dan Singapura adalah pelayanan lalu lintas kapal/VTS (Vessel Traffic Service). Layanan VTS yang dilaksanakan oleh Kementerian Perhubungan dirancang untuk meningkatkan keselamatan kapal, efisiensi bernavigasi, dan perlindungan lingkungan, melalui pemantauan lalu lintas dan interaksi dengan kapal menggunakan sarana teknologi digital dan perangkat radio.

Mengenai hal ini, Direktur Kenavigasian Hengki Angkasawan yang mewakili Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan menjelaskan bahwa Indonesia tengah menyusun Kertas Informasi mengenai VTS Batam dan VTS Dumai untuk memperkenalkan secara resmi dua VTS Indonesia ini ke Organisasi Maritim Internasional/IMO. Sebelumnya, fasilitas layanan VTS tersebut telah diperkenalkan ke Singapura dan Malaysia melalui Tripartite Technical Expert Group (TTEG) sejak tahun 2018.

Wayan Adhi Mahardika

https://akurat.co

0 Comments

Leave a comment

Sorry, you mush first