Ekonomi

Pemerintah Pacu Peran Biro Jodoh Bagi Industri Penunjang Hulu Migas

peran strategis serta mendorong sinergi dan pemberdayaan perusahaan dalam negeri dalam rangka mendukung visi hulu migas


Pemerintah Pacu Peran Biro Jodoh Bagi Industri Penunjang Hulu Migas
Ilustrasi industri hulu migas (Pakar Migas)

AKURAT.CO Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan terus berupaya mengoptimalkan peran strategis serta mendorong sinergi dan pemberdayaan perusahaan dalam negeri dalam rangka mendukung visi hulu migas, khususnya dalam peningkatan kapasitas nasional. Salah satunya dengan melakukan business match-making (biro jodoh) antara KKKS dengan industri penunjang hulu migas.

Pasalnya hal ini diwujudkan SKK Migas bersama Kementerian ESDM dan 20 KKKS dengan mengimplementasikan Program Penilaian dan Pembinaan Bersama Penyedia Barang/Jasa Dalam Negeri Penunjang Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi yang bertujuan untuk memastikan kemampuan serta memberikan pembinaan kepada penyedia barang/jasa dalam negeri agar dapat memenuhi kualifikasi kebutuhan operasi dan proyek hulu migas di Indonesia.

Peran biro jodoh SKK Migas tersebut dirasakan positif oleh sejumlah industri penunjang lainnya. Di antaranya PT Luas Birus Utama yang bergerak di bidang kimia. Kudus Kurniawan, Komisaris PT Luas Birus Utama mengatakan usaha SKK Migas tersebut merupakan jalan untuk mencapai kemandirian nasional sehingga industri dalam negeri dapat menjadi raja di negeri sendiri.

Penggunaan industri lokal, katanya, banyak membawa manfaat positif juga bagi KKKS, di antaranya mengurangi risiko keterlambatan pengiriman, lebih efisien dan juga banyak melibatkan tenaga kerja dalam negeri.

Sementara Oos Kosasih, VP Petrochemical Industry Business SH Commercial & Trading Pertamina mengapresiasi terobosan yang dilakukan SKK Migas untuk mendorong keterlibatan industri nasional dalam sektor hulu migas. Menurut Oos Kosasih, produk-produk yang dihasilkan perusahaannya, seperti BBM, pelumas, dan petrokimia, telah banyak digunakan dalam operasi KKKS.

Misalnya, BBM yang telah memiliki pangsa pasar hingga 97 persen. Sementara pelumas 70 persen dan based-oil product 40 persen.

“Kami harap sinergi ini akan menumbuhkembangkan industri dalam negeri agar dapat mensupport kebutuhan KKKS, sehingga kita bisa tumbuh berkembang, sehingga dapat memastikan keberlanjutan industri dalam negeri, mengurangi defisit impor,” kata Oos Kosasih.

Ditambahkan Erwin Suryadi, SKK Migas akan terus menerapkan konsep business match making atau biro jodoh.

“Sehingga KKKS yang bekerja di indonesia sudah bisa consider perusahaan dalam negeri sebagai pelaksana kegiatan mereka,” katanya.