Ekonomi

Pemerintah Optimis Indonesia ‘Kebal’ Resesi Global, Misbakhun: Tetap Harus Diantisipasi

Pemerintah Optimis Indonesia ‘Kebal’ Resesi Global, Misbakhun: Tetap Harus Diantisipasi
Anggota DPR Fraksi Golkar Mukhammad Misbakhun saat memberikan penjelasan dalam diskusi Dialektika Demokrasi di Media Center, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Kamis (17/11/2022). Dalam diskusi ini membahas dengan tema : Dampak KTT G20 dan B20 Bagi Ekonomi Indonesia dan Dunia. AKURAT.CO/Sopian (Sopian)

AKURAT.CO Pemerintah meyakini bahwa Indonesia 'kebal' terhadap resesi global yang diprediksi akan terjadi di tahun 2023. Namun, tampaknya pemerintah tetap harus melakukan antisipasi agar Indonesia benar-benar tidak terdampak terlalu dalam.

Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, sepakat dengan pemerintah bahwa belum tentu resesi global akan tertransmisi ke Indonesia. Namun, ia meyakini bahwa Indonesia tetap akan merasakan dampak negatifnya dari resesi global yang terjadi tahun depan tersebut.

"Tetapi tetap saja ini (kemungkinan dampak resesi global) harus diantisipasi," kata Misbakhun dalam acara Economic Challenges dengan tema ‘Was-was Dampak Reflasi’ Metro TV yang disaksikan secara daring, Selasa (29/11/2022).

baca juga:

Salah satu sektor yang akan terdampak resesi global, kata dia, yakni sektor manufaktur atau padat karya. Sektor tersebut bakal terpengaruh resesi ekonomi global yang diprediksi akan terjadi tahun 2023. 

Politisi Partai Golkar ini bilang, ketika sektor padat karya ikut terdampak resesi global, maka akan memberikan efek domino yang cukup mengkhawatirkan.

"Misalnya saja permintaan dari sektor manufaktur menyusut dan berdampak pada berkurangnya order. Ketika order berkurang, maka terjadi pengurangan jam kerja. Ketika terjadi pengurangan jam kerja, maka tentu saja akan berdampak kepada sektor tersebut," jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah percaya diri Indonesia tidak akan terdampak resesi global tahun depan karena tingkat konsumsi dalam negeri yang cukup besar. Tetapi selain faktor konsumsi, ada aspek lain yang juga harus dipikirkan.

Sebab, tingkat konsumsi masyarakat dipengaruhi juga oleh lapangan pekerjaan. Ketika sektor manufaktur di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya, maka tentu saja akan mengganggu tingkat konsumsi.

"Inilah yang harus diantisipasi. Maka kita di DPR meminta pemerintah mengantisipasi dengan rinci program ekonomi untuk mereka-mereka yang akan terkena dampak resesi global," ujarnya.