Ekonomi

Pemerintah Intervensi Kebijakan Beri Perhatian Khusus Pada Sektor Slow Starter

KSSK akan mengintervensi berbagai kebijakan untuk mendorong pemulihan ekonomi dengan memberikan perhatian khusus pada sektor slow starter


Pemerintah Intervensi Kebijakan Beri Perhatian Khusus Pada Sektor Slow Starter
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat memberikan penjelasan tentang penerbitan petunjuk teknis keterbukaan informasi keuangan di Gedung Juanda I, Kemenkeu, Jakarta Pusat, Senin (5/6). Sri Mulyani telah mendatangani peraturan Menteri nomor 70/PMK.03/2017 tentang petunjuk teknis mengenai akses infomasi keuangan untuk kepentingan perpajakan. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan mengintervensi berbagai kebijakan untuk mendorong pemulihan ekonomi dengan memberikan perhatian khusus pada sektor-sektor yang masuk dalam kelompok pemulihannya lambat atau slow starter.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kelompok slow starter yakni perdagangan, konstruksi, transportasi dan jasa-jasa mengalami kontraksi penjualan paling dalam akibat pandemi Covid-19 dan membutuhkan waktu yang lama untuk bangkit.

“Ketika covid naik, mereka turun, ketika covid turun mereka pulih tapi slow. Nah ini jadi tidak simetris dan ini merupakan kelompok yang harus kita perhatikan,” kata Menkeu Sri Mulyani saat Raker bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (14/6/2021).

Pemulihan sektor di kelompok slow starter, lanjut Menkeu, sangat berbeda dengan kelompok growth driver (industri manufaktur) yang meskipun terpukul, namun bisa mulai bangkit. Sejak kuartal IV 2020 return of asset kelompok growth driver mencapai 3,67 persen.

“Kalau dikoneksikan dengan belanja untuk listrik sudah mulai meningkat di semua industri, ini diharapkan makin naik ke atas,” ujar Menkeu.

Sedangkan kelompok resilience, merupakan sektor-sektor yang daya pulih akibat pandemi Covid-19 sangat cepat, bahkan pada kuartal IV 2020 pertumbuhannya telah mencapai 9,2 persen.

Lebih lanjut Sri Mulyani menyampaikan bahwa kemampuan membayar kelompok resilience berada di atas threshold 1,5 sementara kelompok slow starter dan growth driver di bawah threshold atau rendah.Kondisi tersebut membuat interest coverage ratio (ICR) atau kemampuan membayar kelompok slow starter dan growth driver rendah dan perbankan juga menghindari untuk memberikan kredit.

Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai intermediary keuangan perlu melakukan intervensi untuk mendorong pemulihan kedua kelompok tersebut.

“Ini adalah tantangan pemulihan ekonomi yang kami di KSSK terus membahasnya. Apalagi yang harus kita lakukan, policy mix yang bisa kita formulasikan,” jelasnya.

Sekadar informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diragukan akan bisa mencapai 5% di kuartal II-2021 meskipun ekonomi mungkin akan tumbuh melesat pada periode tersebut.

"Andaikan ekonomi melesat tinggi pada kuartal II-2021 pun, saya sangsi ekonomi bisa tumbuh 5 persen sepanjang tahun 2021," kata Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira kepada Akurat.co, Jakarta, Selasa (8/6/2021).

Bhima menjelaskan, meskipun terdapat indikator pemulihan kepercayaan konsumen, tapi pemulihan ekonomi cenderung tidak merata di seluruh segmen.[]

Sumber: Antara