Lifestyle

Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Terhadap Rehabilitasi Psikis Anak Korban Kanjuruhan

Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Terhadap Rehabilitasi Psikis Anak Korban Kanjuruhan
Salah satu korban tragedi kanjuruhan (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak agar pemerintah bertanggung jawab terhadap anak-anak yang menjadi yatim piatu, akibat dari tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/3/2022).

Tragedi itu mengakibatkan ratusan orang tewas sesak napas dan cidera akibat gas air mata yang ditembakan polisi untuk membubarkan massa usai pertandingan Arema FC vs Persebaya.

Diketahui, total korban tragedi Kanjuruhan di Malang adalah sebanyak 448 orang. Jumlah tersebut merupakan data akumulasi 323 korban luka-luka dan 125 total yang meninggal di Kanjuruhan.

baca juga:

Komisioner KPAI, Retno Listyarti menyebut pemerintah tak bisa hanya sekadar memberikan santunan kepada para korban, tetapi juga rehabilitasi psikis terutama anak-anak yang saat ini masih dirawat di rumah sakit.

"Begitu pun bagi anak-anak yang orangtuanya meninggal saat tragedi ini butuh dukungan negara, karena mereka mendadak jadi yatim atau bahkan yatim piatu, tulang punggung keluarganya ikut menjadi korban tewas dalam peristiwa ini," kata Retno dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (3/10/2022).

Retno juga menyebut korban tewas dalam tragedi Kanjuruhan sebanyak 17 di antaranya merupakan anak-anak, dan 7 anak lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit. 

Oleh karena itu, Retno mendesak pemerintah untuk segera membentuk tim independen untuk melakukan penyelidikan terhadap tragedi ini.

Retno juga mendorong Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk melakukan evaluasi secara tegas atas tragedi ini.

"KPAI mendorong Pemerintah Tetapkan Hari Berkabung Nasional atas tragedi tewasnya ratusan supporter di Kanjuruhan, termasuk korban usia anak dan mengheningkan cipta serentak selama 3 menit," kata Retno.

Sebelumnya, tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang terjadi setelah laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022.

Dalam laga itu tuan rumah Arema FC menelan kekalahan 2-3. Kekalahan itu menyebabkan beberapa suporter turun dan masuk ke lapangan. 

Petugas keamanan dari Polri dan TNI, kemudian menghalau para suporter yang masuk ke lapangan itu.

Aparat kepolisian kemudian meletupkan senjata gas air mata ke arah penonton. Akibatnya massa kocar kacir menuju satu titik keluar. Banyak yang meninggal karena terinjak injak penonton yang berebut untuk keluar stadion, karena gas air mata itu.[]