Ekonomi

Ini Yang Harus Dilakukan Pemerintah Selamatkan Perekonomian dari Ketidakpastian Global

Meski angka pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,4%, INDEF mengingatkan capaian ini dapat menjadi titik awal penurunan perekonomian Indonesia.

Ini Yang Harus Dilakukan Pemerintah Selamatkan Perekonomian dari Ketidakpastian Global
Illustrasi (Dokumentasi)

AKURAT.CO Hasil dari kinerja perekonomian pada triwulan II-2022 menjadi angin segar bagi bangsa Indonesia di tengah berbagai gejolak ekonomi. Namun meskipun memiliki capaian tinggi berada di angka 5,4% dibandingkan dengan periode sama di tahun sebelumnya, INDEF mengingatkan bahwa hasil capaian periode ini dapat menjadi titik awal penurunan perekonomian Indonesia.

“Tantangan ke depan, terutama triwulan ketiga dan triwulan keempat ini cukup besar. Apalagi triwulan ketiga di mana momentum kemewahan musiman entah hari raya keagamaan atau event besar itu relatif jarang dan tentu ini akan berimplikasi kepada perekonomian nasional,” ujar Eko Listiyanto, Wakil Direktur INDE dalam konferensi pers Evaluasi Kinerja Ekonomi Triwulan II-2022: Bertahan di Tengah Ketidakpastian yang dilaksanakan pada Minggu (7/8/2022).

baca juga:

Eko memberikan lima catatan besar hasil analisis terhadap kinerja perekonomian di triwulan II-2022 ini. Yang pertama adalah bahwa keberuntungan besar telah membersamai perekonomian bangsa dengan adanya momentum besar terjadi selama periode triwulan kedua ini, yaitu adanya momentum hari raya yang mendorong kenaikan pertumbuhan perekonomian.

Lebaran tahun ini mencatatkan rekornya dengan adanya mudik terbesar dan adanya kebijakan pemerintah yang memperpanjang periode libur lebaran 2022 sehingga kenaikan konsumsi selama masa lebaran mengalami peningkatan pesat, terutama pada konsumsi rumah tangga.

"Libur lebaran juga nampaknya telah mendorong pertumbuhan pada sektor transportasi dan pergudangan hingga mencaoai 21,27% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya dan lebih tinggi 15,79% dibandingkan dengan triwulan I-2022," tambahnya. 

Kedua, Eko memberikan penjelasan bahwa kinerja konsumsi pemerintah pada triwulan kedua dapat memberikan dampak penurunan perekonomian Indonesia pada triwulan ketiga. Hal ini disebabkan selama dua triwulan berturut-turut kinerja pengeluaran konsumsi pemerintah selalu tumbuh negatif. Yaitu berada pada angka -7,59 pada triwulan I-2022, dan -5,24 pada triwulan II-2022.

Padahal, konsumsi pemerintah merupakan akseleran penting yang dapat memacu pemulihan ekonomi pasca pandemi. Jika dilihat dari data yang ada, belanja negara sampai dengan akhir Juni 2022 turun sebesar 1,13% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Jumlahnya hanya mencapai 37,24% terhadap Pagu APBN 2022 atau hanya mencapai Rp 1.156,88 triliun.

Lalu yang ketiga terhadap kinerja ekonomi di triwulan II-2022 adalah bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi justru diangkat dari sektor pendukung perekonomian, sedangkan kinerja dari sektor utama masih lamban.

Empat sektor utama ini adalah sektor industri, pertambangan, pertanian, dan perdagangan yang pertumbuhannya masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi triwulan II-2022. Tentunya hal ini akan menjadi persoalan yang dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi karena keempat sekot ini adalah penyumbang terbesar dari PDB.

Nah yang keempat, adanya laju ekspor yang berada dalam resiko tinggi. Dalam triwulan II-2022, laju ekspor Indonesia tumbuh sebsar 19,74% dibandingkan dengan periode sama di tahun sebelumnya. Ini adalah pertumbuhan laju ekspor yang cukup memuaskan, namun, tekanan inflasi yang saat ini terus mengalami peningkatan dapat beresiko menggerung surplus di periode triwulan selanjutnya karena mitra dagang utama yang bisa saja mengurangi oermintaan barang dan jasa akibat inflasi. Hal ini pun dapat menyebabkan cadangan devisa menurun.

Catatan terakhir yang diberikan Eko adalah terkait dengan tekanan global yang kini semakin membesar. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2022 dapat mencapai ekspansi yang memuaskan namun ke depannya akan lebih lagi karena suasana tekanan global dan pengaruh geopolitik yang semakin memanas.

Selain belum berakhirnya perang Rusia-Ukraina, situasi saat ini menjadi semakin rumit akibat tensi geopolitik antara Taiwan dan China. Selain itu, tekanan inflasi di Amerika juga semakin agresif sehingga tentu akan memengaruhi banyak hal secara global.

Dirinya mengungkapkan beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk bertahan di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, yang pertama, pemerintah perlu melakukan upaya untuk mengatasi persoalan inflasi yang mulai menggerogoti daya beli masyarakat, apalagi ketiadaan momentum hari besar keagamaan pada triwulan III-2022 akan beresiko dalam membuat laju konsumsi rumah tangga melambat.

"Belanja pemerintah pun perlu dinaikkan karena itu merupakan salah satu faktor yang dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Selain itu,  juga perlu melihat ada ruang lebih untuk sektor utama pertumbuhan ekonomi, dalam industri, pertambangan, pertanian, perdagangan, sektor yang menampung banyak lapangan kerja ini perlu ditingkatkan supaya dapat tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

"Dalam menjaga laju ekspor, kita perlu menjaga pasar mitra dagang utama dan mendorong ekspor ke pasar-pasar pontensial baru supaya surplus dagang dapat dipertahankan," tambahnya lagi. 

Yang terakhir dan tidak kalah penting lanjut Eko, adalah meningkatkan dan menguatkan aktivitas ekonomi domestik yang dapat menjadi strategi Indonesia untuk mampu mempertahankan perekonomian di tengah ketidakpastian global.

Lihat Sumber Artikel di Warta Ekonomi Disclaimer: Artikel ini adalah kerja sama antara AkuratCo dengan Warta Ekonomi. Hal yang berkaitan dengan tulisan, foto, video, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab dari Warta Ekonomi.
Sumber: Warta Ekonomi