News

Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Regulasi Cukai Vape

Disinyalir banyak ketimpangan dalam sistem regulasi saat ini yang menerapkan cukai vape sistem tertutup 11 kali lebih tinggi daripada vape sistem terbuka


Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Regulasi Cukai Vape
Ilustrasi Vape. (FOTO/iStockphoto)

AKURAT.CO, Penerapan sistem cukai ad valorem untuk hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) pada rokok elektrik (vape) disoal. Dalam skema yang ada, meski sama-sama dikenakan cukai 57 persen oleh pemerintah, harga cukai vape sistem tertutup 11 kali lebih tinggi daripada vape sistem terbuka.

Perbedaan harga cukai terjadi karena sistem terbuka dihitung dari harga per mililiter liquid, sedangkan vape sistem tertutup dibebankan perhitungan berdasar pada harga per kontainer.

"Padahal, sistem kontainer tertutup memiliki risiko yang relatif lebih rendah mengingat minimnya potensi kontaminasi mulai dari produksi hingga digunakan oleh konsumen," ujar Ketua Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (Appnindo) Roy Lefrans Wungow kepada wartawan, Rabu (15/09/2021).

Sebaliknya, kata Roy, pada vape sistem tertutup konsumen tidak bisa menggunakan e-liquid selain yang sudah disediakan oleh produsen di dalam cartridge-nya. Konsumen juga tidak bisa mengubah atau mengganti atomizer (coil dan kapasnya) sehingga bisa memastikan tidak ada malafungsi ataupun human error. 

Namun, dengan pertimbangan keamanan tersebut, regulasi yang ada justru membebani konsumen dengan cukai tambahan. Kekeliruan terjadi lantaran saat penerapan cukai, belum ada produsen vape sistem tertutup di Indonesia sehingga Pemerintah tidak mendapatkan masukan dalam menentukan harga cukai. 

"Akhirnya cukai yang dibebankan menjadi sangat tinggi sekali jika kita hitung per satuan mililiter. Karena itu, kami sangat berharap perlunya meninjau ulang agar cukai sistem tertutup bisa menggunakan cukai spesifik per cartridge agar kami punya kesempatan untuk bertumbuh," kata Roy.

Roy juga menyinggung perlunya perbaikan agar mendorong pertumbuhan industri dan membuka lapangan pekerjaan. Dia menjelaskan meskipun sudah banyak penelitian di dalam maupun luar negeri yang menunjukkan potensi risiko vape yang lebih rendah daripada rokok konvensional, cukai vape tetap terpatok di angka tertinggi 57 persen. Situasi ini menjadi disinsentif bagi perokok dewasa yang ingin beralih menggunakan vape, khususnya sistem tertutup yang lebih praktis dan aman dari kontaminasi.

"Vape dengan sistem tertutup merupakan sebuah inovasi masa depan. Tentunya jika didukung dengan baik maka akan memungkinkan untuk berkembang dengan sangat baik dan menciptakan serapan lapangan kerja yang baik juga," tutup Roy.[]