News

Pemerintah Diminta Jelaskan Secara Rinci Pemaknaan Ekstrimisme di Perpres Nomor 7/2021

Pemerintah akan melatih masyarakat soal pelaporan terhadap dugaan adanya ekstrimisme yang mengarah ke terorisme.


Pemerintah Diminta Jelaskan Secara Rinci Pemaknaan Ekstrimisme di Perpres Nomor 7/2021
Presiden Joko Widodo saat melakukan kunjungan langsung untuk meninjau bencana banjir dari Jembatan Mataraman DI Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, Senin (18/1/2021). (BPMI Setpres)

AKURAT.CO, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE). 

Dalam salah satu klausulnya menyebut bahwa pemerintah akan melatih masyarakat soal pelaporan terhadap dugaan adanya ekstrimisme yang mengarah pada aksi terorisme (Polmas).

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab mengingatkan dampak negatif yang bisa saja muncul dari rencana tersebut. 

Menurutnya, pemerintah harus bisa menjelaskan pemaknaan ekstrimisme secara clear agar tidak menimbulkan bias di masyarakat.   

"Bahaya kalau pemerintah tidak bisa mendefinisikan dan menjelaskan kepada masyarakat. Bias pemaknaan itu bisa saja menimbulkan paham yang menyudutkan golongan tertentu," kata Fadhli dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (18/1/2021).

"Bisa jadi orang yang kritis terhadap pemerintah dilaporkan dengan tuduhan tersebut. Apalagi kalau menyangkut identitas tertentu. Misalnya, ada orang yang bercelana cingkrang, jarang bergaul, kritis pula terhadap pemerintah. Padahal tidak demikian," sambungnya.   

Atau sebaliknya, lanjut Fadhli, ada ekstrem kiri yang menebar kekerasan verbal terhadap kelompok tertentu yang berpotensi pada aksi terorisme. 

"Vandalisme rumah ibadah atau bulying umat beragama, itu juga ekstrimisme yang bisa juga berdampak pada aksi terorisme," ujarnya. 

Ditambah lagi, ia menambahkan, soal minimnya pengetahuan masyarakat soal wawasan intelejen, yang bisa mengakibatkan kesalahan fatal dalam pelaporan. 

"Saya pikir kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin justru akan mengakibatkan konflik sosial baru," tutur Fadhli. []