Ekonomi

Pemerintah, Begini Kunci Strategis untuk Bangkitkan Konsumsi Rumah Tangga

Indef memberikan berbagai rekomendasi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bergerak positif kembali di kuartal II 2021


Pemerintah, Begini Kunci Strategis untuk Bangkitkan Konsumsi Rumah Tangga
Produk-produk ritel yang dijajakan di salah satu pusat perbelanjaan di Pekanbaru, Riau, Rabu (9/5). Center of Reform on Economics (CORE) menyoroti konsumsi swasta Indonesia yang belum juga menunjukan tanda-tanda pemulihan. Hal ini terlihat dari komposisi pengeluaran rumah tangga dan penjualan ritel cenderung menurun. Tercatat, pada kuartal pertama 2018, pertumbuhan penjualan barang ritel tersier hanya sebesar 7,3 persen saja, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Kepala Center Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M.Rizal Taufikurahman memberikan berbagai rekomendasi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bergerak positif kembali di kuartal II 2021 nanti.

Diantaranya adalah Indonesia perlu melakukan upaya-upaya percepatan dan pemerataan program vaksinasi, efektifitas serta akselerasi distribusi kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menjadi kunci strategisnya.

" Terutama untuk insentif UMKM, Bansos, sembako yang notabene itu menjadi kunci strategis sebagai upaya memperbaiki kinerja indikator konsumsi rumah tangga. Jadi tidak hanya meningkatkan level konsumsi saya, namun juga meningkatkan daya beli masyarakat," ujarnya pada saat webinar bersama media di Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Adapun dalam rangka menjaga optimisme pertumbuhan ekonomi tahun 2021 terutama di kuartal II nanti, maka perlu didongkrak perbaikan konsumsi rumah tangga. Salah satunya perbaikan pendapatan agar daya beli semakin membaik.

"Untuk mencapai pertumbuhan di atas 6 pada kuartal II 2021 dirasakan sangat berat, maka perlu ada perbaikan kinerja ekspansi kredit. Lalu perlu ada perbaikan kinerja kredit yang bisa menggerakkan sektor riil," ucapnya.

Kemudian, salah satu upaya strategis untuk konsumsi dari aspek keuangan yakni perlu adanya relaksasi dan kemudahan kredit konsumsi, bantuan sosial didorong lagi hingga diatas 60% dari total dan ketepatan sasaran penerima bansos dan sembako menjadi sangat krusial.

"Selain kredit konsumsi, kredit perbankan yang menggerakan sektor riil perlu mendorong sektor UKM yang sangat terdampak dengan Covid-19 terutama sektor UKM yang bergerak di usaha infokom, pertanian dan kesehatan," imbuhnya.

Dan yang terakhir adalah, pendorong pemulihan ekonomi justru dari sisi eksternal (X-M), bukan dari perekonomian domestik. Sehingga perlu adanya dorongan dan penguatan produksi di sektor yang memberikan kontrbusi terhadap ekspor dan investasi menjadi pendorong untuk akselerasinya," paparnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 sebesar -0,74% Itu berarti Indonesia masih mengalami resesi ekonomi.

"Dengan pergerakan berbagai indikator kuartal I 2021 ini perekonomian Indonesia berdasarkan PDB Rp 3.969 triliun. Sehingga kalau dibandingkan kuartal I 2020 ekonomi Indonesia kuartal I 2021 ini masih kontraksi 0,74%. Jadi secara yoy ekonomi Indonesia kuartal I 0,74% sementara secara qtq kontraksi 0,96%," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/5/2021).[]

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co