News

Pemerintah Bayangan Myanmar Serukan Pemberontakan Lawan 'Teroris Junta', Ini Strateginya

Seruan pemberontakan itu diumumkan Selasa (7/9) dalam sebuah video Facebook yang dibuat oleh Presiden Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), Duwa Lashi La.


Pemerintah Bayangan Myanmar Serukan Pemberontakan Lawan 'Teroris Junta', Ini Strateginya
Para pengunjuk rasa memegang spanduk untuk mendukung Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon,7 Juli 2021 (AFP)

AKURAT.CO, Pemerintahan bayangan Myanmar, yang dibentuk oleh oposisi militer yang diasingkan, telah menyerukan pemberontakan terhadap junta yang berkuasa. Dalam upayanya itu, mereka menetapkan strategi yang mencakup tindakan dari milisi bersenjata dan pasukan etnis serta mendesak birokrat untuk meninggalkan jabatan mereka.

Seruan pemberontakan itu sendiri baru diumumkan pada Selasa (7/9) dalam sebuah video Facebook yang dibuat oleh Presiden Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), Duwa Lashi La. Dalam rekamannya itu, Duwa Lashi La menyebut bahwa seruan 'perang defensif rakyat' adalah untuk melawan kekuasaan teroris militer yang dipimpin oleh Min Aung Hlaing.

"Dengan tanggung jawab untuk melindungi kehidupan dan harta benda rakyat, Pemerintah Persatuan Nasional… meluncurkan perang pertahanan rakyat melawan junta militer.

"Karena ini adalah revolusi publik, semua warga di seluruh Myanmar, memberontak melawan kekuasaan teroris militer yang dipimpin oleh Min Aung Hlaing di setiap sudut negara," kata Duwa Lashi La sambil menyatakan kondisi darurat. 

Baca juga: Junta Militer Myanmar Buka Pintu Dialog dengan ASEAN, Indonesia Ikut Ajukan Calon Utusan Khusus

Myanmar berada dalam kekacauan sejak Jenderal Senior Ming Aung Hlaing merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi tepat saat parlemen baru akan duduk. Kudeta tersebut kemudian memicu protes dan gerakan pembangkangan sipil yang meluas. Namun, aksi dari masyarakat pro-demokrasi telah lama ditanggapi oleh militer dengan kekerasan. 

Lebih dari seribu orang telah tewas, dan ribuan lainnya ditangkap, kata kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Kemudian pada gilirannya, tindakan keras mematikan itu memicu perlawanan bersenjata terhadap kekuasaan militer. Ini terutama di wilayah-wilayah perbatasan Myanmar, di mana oposisi telah bergabung dengan kelompok etnis bersenjata dan membentuk Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF).Puluhan ribu orang telah mengungsi akibat kekerasan tersebut.

Sudah enam bulan sejak Myanmar mengalami kudeta dan menghadapi gejolak politiknya. Sanksi dari Barat dan beragam upaya diplomatik dari negara-negara tetangga, termasuk Indonesia juga sudah ditempuh. Namun, menurut Al Jazeera, upaya komunitas internasional untuk mengakhiri kekacauan itu telah gagal dalam membuat banyak kemajuan.