News

Pembekuan Darah Jadi Efek Samping Vaksin, J&J Siap Kerja Sama Studi dengan Jerman

Sebelumnya EMA juga memberi peringatan serupa terhadap vaksin AstraZeneca.


Pembekuan Darah Jadi Efek Samping Vaksin, J&J Siap Kerja Sama Studi dengan Jerman
Dalam foto ini, seorang perawat mengambil dari botol vaksin COVID-19 dari Johnson & Johnson di Los Angeles, California. (Reuters via Straits Times)

AKURAT.CO, Johnson & Johnson (J&J) dilaporkan mau bekerja sama dengan seorang ilmuwan Jerman dalam penelitian tentang hubungan pembekuan darah dengan produk vaksin COVID-19. 

Diwartakan Reuters, hal itu disampaikan langsung oleh peneliti Jerman yang bekerja sama dengan J&J, Andreas Greinacher, pada Selasa (20/4). Ini tidak lama setelah Regulator Obat Uni Eropa (EMA) mengatakan bahwa pembekuan darah harus terdaftar sebagai efek samping yang 'sangat langka' dari vaksin J&J.

Diketahui, sebelumnya EMA juga memberi peringatan serupa terhadap vaksin AstraZeneca.

"Kami sepakat hari ini dengan (J&J) bahwa kami akan bekerja sama. Kebutuhan terbesar saya, yang telah saya tunjukkan kepada perusahaan, adalah saya ingin mendapatkan akses ke vaksin, karena vaksin J&J tidak tersedia di Jerman," kata Greinacher sembari merilis makalah baru penelitian di mana timnya ingin mempelajari sampel vaksin J&J.  

Greinacher dikenal sebagai ahli pengobatan transfusi dari Universitas Greifswald, yang juga mempelajari hubungan pembekuan darah langka dengan vaksin AstraZeneca. Sejak pertengahan Maret, timnya telah menganalisis spesimen dari orang-orang yang mengalami pembekuan setelah mendapat suntikan AstraZeneca.

Namun, sama seperti sikap EMA sebelumnya, Greinacher menegaskan dukungan bahwa baik vaksin J&J maupun AstraZeneca, memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibanding dengan risiko pembekuan.

Pada Selasa, EMA menegaskan kecurigaan bahwa vaksin J&J bisa memicu tanggapan kekebalan yang tidak diinginkan.

"Satu penjelasan yang masuk akal untuk kombinasi gumpalan darah dan trombosit darah rendah adalah respons imun, yang mengarah ke kondisi yang mirip dengan yang kadang-kadang terlihat pada pasien yang diobati dengan heparin yang disebut Trombositopenia yang diinduksi Heparin (HIT), "katanya.

Namum, pada saat itu juga, Ketua Komite Keselamatan Sabine Straus mengakui pihaknya belum mengidentifikasi faktor risiko spesifik, seperti masalah genetik.

"Akan sangat membantu jika kita mengetahui sebelumnya, apakah itu mungkin semacam kelainan genetik, atau sesuatu yang lain di pembuluh darah," kata Straus kepada wartawan.

Sedangkan, Greinacher sendiri tidak percaya tes prognostik seperti yang disarankan Straus bisa terjadi. Mengingat, dari pengalamannya mempelajari ribuan pasien HIT, Greinacher tidak menemukan kecenderungan adanya faktor genetik.

"Kami bahkan mengurutkan secara lengkap 3 ribu pasien ini, dan kami tidak dapat menemukan kecenderungan genetik," katanya.

Hasil penelitian Greinacher terhadap vaksin J&J dan efek pembekuan darah langka memang baru akan dilaksanakan. Namun, dari hasil makalah Greinacher untuk vaksin AstraZeneca, diketahui bahwa teknologi di balik suntikannya dapat berkontribusi pada serangkaian peristiwa yang mengalahkan banyak mekanisme penjagaan sistem kekebalan manusia. 

Sementara, baik vaksin AstraZeneca dan J&J, keduanya diketahui menggunakan virus flu biasa (meskipun jenisnya berbeda) untuk mengangkut protein virus corona ke sel dan menghasilkan respon kekebalan.

Terkait itu, Greinacher pun mengungkap bahwa respon sistem kekebalan setiap individu pada dasarnya berbeda. Namun, itu akan menjadi masalah jika secara kebetulan, sebagian besar gangguan pada sistem muncul bersamaan. 

"Setiap individu berbeda, dan hanya jika secara kebetulan, sembilan atau 10 kelemahan datang bersamaan, maka kita memiliki (masalah)," kata Greinacher.

"Jika tidak, sistem keamanan internal kita memblokirnya, dan membuat kita tetap aman," sambungnya. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu