Lifestyle

Pembayaran Non Tunai Sudah Jadi Trend, Waspadai Penipuan Transaksi Digital 

Ubah password dompet digital anda secara rutin dan jangan beri kode OTP sembarangan.


Pembayaran Non Tunai Sudah Jadi Trend, Waspadai Penipuan Transaksi Digital 
Ratusan Warga China yang terjaring oleh Polda Bali karena penipuan online (AKURAT.CO/Puji Sukiswanti)

AKURAT.CO Lembaga Markplus tahun 2020 mencatat ada peningkatan nilai transaksi digital sebanyak 64 persen semenjak penerapan pembatasan sosial karena pandemi Covid-19. 

Bukan hanya itu, pertumbuhan volume transaksi digital juga mengalami kenaikan sebanyak 37 persen. 

"Transaksi digital dengan dompet digital semakin meningkat, namun apakah setiap orang betul-betul paham memakai dompet digital," kata Pengusaha dan Digital Trainee, Graphologist Diana Aletheia saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Kamis (30/6).

baca juga:

Dompet digital sendiri merupakan aplikasi elektronik yang dapat digunakan untuk membayar transaksi online tanpa kartu dan tanpa uang tunai di mana pengguna hanya memerlukan ponsel saja. 

Transaksi digital ini meliputi e-wallet yakni uang elektronik berbasis aplikasi, e-money seperti uang elektronik berbentuk kartu (chip base) untuk menyimpan informasi saldo, dan e-banking yaitu layanan menggunakan jaringan internet untuk melakukan transaksi perbankan.

Berdasarkan survei Ipsos Indonesia Februari 2020, sebanyak 68 persen pengguna aplikasi biasanya memerhatikan segi kenyamanan dalam bertransaksi digital. Selain itu 23% responden mengaku menggunakannya karena adanya promo, dan sebanyak 9% lainnya baru memerhatikan segi keamanan. 

Dimulai dari memilih jenis aplikasi yang diundu, memerhatikan kerahasiaan password, hingga tidak memberikan kode OTP secara sembarangan.

Lebih laniut, kata Diana, berbagai kemudahan dari transaksi digital memang membantu kehidupan sehari-hari, namun ada dampak lainnya seperti menjadi konsumtif, rentan terhadap cyber crime, menimbulkan hutang dengan kemudahan menggunakan payletter. 

"Meskipun segala sesuatunya menjadi lebih mudah di era digital saat ini, masyarakat tetap perlu bijak saat menggunakan teknologi," kata Diana Lagi.

Adapun dari Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, Indeks atau skor Literasi Digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. 

Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.

Sebagai respons untuk menanggapi perkembangan TIK ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. 

Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital.

Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi.