News

Pemanasan Global, Fahri Hamzah: Kita Jangan Lagi Jadi Korban Eksploitasi Alam Kaum Pemilik Modal!

Fahri Hamzah meminta agar pemerintah menyadari dengan adanya peringatan global perubahan iklim, maka artinya dunia ini akan semakin rusak.


Pemanasan Global, Fahri Hamzah: Kita Jangan Lagi Jadi Korban Eksploitasi Alam Kaum Pemilik Modal!
Wakil Ketua Partai Gelora Fahri Hamzah menerima karikatur yang diberikan oleh Pimpinan Redaksi Rizal Maulana Malik saat berkunjung di kantor Akurat.co, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Kunjungan tersebut sebagai silahturahmi sekaligus mempromosikan produknya 'Kopi Revolusi'. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meminta agar Pemerintah Indonesia harus menyadari dengan adanya peringatan global perubahan iklim, maka artinya dunia ini akan semakin rusak.

Menurut Fahri, dampak global perubahan iklim di masa mendatang tak kalah dahsyatnya dengan lahirnya wabah atau pandemi Covid-19.

Dia menilai, pandemi Covid-19 ini juga menjadi peringatan alam semesta terhadap kecenderungan perilaku manusia yang makin tidak sehat bagi lingkungan.

"Perusakan alam, eksploitasi besar-besaran yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, penggundulan hutan, pengotoran laut, pengrusakan di sungai dan pengerukan mineral yang masif di mana-mana merupakan sumber kerusakan yang harus diwaspadai di masa yang akan datang," jelas Fahri saat dihubungi AKURAT.CO, Jakarta, Kamis (12/8/2021).

Namun kata Politisi Partai Gelora ini, Indonesia tidak boleh mengalamatkan kesalahan ini murni pada negara sendiri, tapi negara-negara berkembang yang sering menjadi korban dari eksploitasi lingkungan kaum pemilik modal.

Oleh sebab itu, Fahri meminta agar Pemerintah Indonesia harus mempersiapkan pertahanan untuk bertindak meminta pertanggungjawaban lingkungan yang rusak ini adalah tanggung jawab besar dari kapitalisme lama yang berkembang di barat dan kapitalisme baru di Asia terutama, ataupun Cina.

"Jadi Indonesia harus berdiri tegak dengan pendirian kaum saintis. Tapi pada saat yang bersamaan harus bijak untuk tidak kembali menjadi korban dari kebijakan global yang hanya mementingkan kepentingan sepihak ekonomi mereka," tegasnya.

Seperti diketahui, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, 2020 merupakan tahun terpanas kedua berdasarkan pengamatan dari 91 stasiun BMKG. BMKG menunjukkan suhu rata-rata permukaan di Indonesia pada tahun 2020 lebih tinggi 0,7 derajat celcius dari periode referensi tahun 1981-2010.

"Situasi tersebut memicu pergeseran pola musim dan suhu udara yang mengakibatkan peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi, salah satunya kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya dipengaruhi kondisi kekeringan ekstrem, tetapi juga menyebabkan peningkatan emisi karbon dan partikular ke udara," papar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan persnya di Jakarta, dinukil AKURAT.CO, Minggu (8/8/2021).