Lifestyle

Pemaksaan Aborsi yang Dilakukan Kim Seon Ho Sangat Berbahaya

Kim Seon Ho saat ini tengah menjadi sorotan karena kasus pemaksaan melakukan aborsi. Ternyata ini berbahaya dan ada hukuman kurungan pidana di Indonesia


Pemaksaan Aborsi yang Dilakukan Kim Seon Ho Sangat Berbahaya
Aktor Korea Selatan, Kim Seon Ho (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Aktor Korea Selatan, Kim Seon Ho, saat ini tengah menjadi sorotan. Pasalnya, dia terlibat dalam kasus pemaksaan melakukan aborsi. Hal ini terjadi berawal dari gosip mengenai dirinya yang santer diberitakan, setelah seorang perempuan mengungkap jika seorang aktor berinisial K yang bermuka dua dan tidak tahu malu.

Perempuan tersebut mengunggah curhatannya ini di laman komunitas online Korea bernama Pann.Nate, dengan judul "Saya mengungkapkan sifat sebenarnya aktor K yang bermuka dua dan tak tahu malu".

Dikutip dari laman Soompi, perempuan tersebut juga mengaku sebagai mantan pacar dari K. Hal tersebut lantas membuat geger warganet, khususnya di Korea dan menduga jika K yang dimaksud adalah Kim Seon Ho.

Terkait rumor yang menimpa aktornya tersebut, pihak Salt Entertainment yang menaungi Kim Seon Ho pun buka suara dan membenarkan gosip tersebut. Dilansir dari laman Koreaboo, berikut ini permintaan maaf yang disampaikan oleh Salt Entertainment:

"Halo, ini adalah Salt Entertainment. Kami meminta maaf karena menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang mengenai urusan pribadi Kim Seon Ho. Kami mohon maaf kepada banyak orang yang telah kecewa atau terluka dengan kejadian ini. Sekali lagi, kami mohon maaf menimbulkan kekhawatiran karena hal yang negatif".

Kim Seon Ho pun telah meminta maaf melalui surat tulisan tangan. Berikut ini adalah kutipan sebagian pernyataan maaf yang disampaikan oleh Kim Seon Ho, yang dilansir dari laman Korea Boo.

"Ini Kim Seon Ho. Saya dengan tulus meminta maaf atas keterlambatan pernyataan saya. Beberapa waktu yang lalu, setelah artikel mengenai saya dirilis, saya mengalami ketakutan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, dan akhirnya saya bisa menulis sesuatu.

"Saya telah bertemu dengan orang tersebut dengan perasaan dan niat yang baik. Dalam proses (bertemu dengan mereka), saya menyakiti mereka dengan kecerobohan dan perilaku saya yang tidak pengertian.

Pertama-tama, saya ingin meminta maaf secara tulus kepada mereka melalui pernyataan ini. Saya meminta maaf kepada semua orang yang telah mempercayai saya dan mendukung saya dari awal hingga akhir. Karena keberadaan mereka, saya berdiri di sini sebagai aktor Kim Seon Ho, tapi saya lupa akan hal tersebut. Saya minta maaf karena menyebabkan masalah bagi banyak orang dan para staf karena kekurangan saya.

"Saya ingin meminta maaf dengan tulus kepada semua orang yang merasa terluka. Saya tahu jika pernyataan ini tidak akan sepenuhnya sampai kepada hati setiap orang, tapi saya tulus mengungkapkannya. Saya sungguh minta maaf," tulis Seon Ho.

Seperti diketahui, wanita yang mendapat kehamilan tak diinginkan kebanyakan memilih jalan aborsi untuk menyelesaikan masalahnya. Kebanyakan, jalan aborsi ini dipilih oleh orang terdekat korban seperti orangtua, saudara kandung dan yang paling banyak adalah pasangan yang menghamilinya.

Sebenarnya, aborsi ini membahayakan dan memiliki dampak yang buruk di kemudian hari, jika tidak ada indikasi medis tertentu. Akan tetapi, aborsi juga bisa terjadi karena kehamilan yang bermasalah sehingga mau tak mau harus segera digugurkan.

Sama seperti setiap tindakan medis lain, aborsi juga memiliki risiko, apalagi jika dilakukan di tempat dengan fasilitas terbatas, bukan oleh tenaga medis, tidak ada kondisi medis yang mendasari, serta dilakukan dengan metode yang tidak aman.

Risiko aborsi meliputi:

  • Perdarahan berat.
  • Cedera pada rahim atau infeksi akibat aborsi yang tidak tuntas.
  • Kemandulan.
  • Kehamilan ektopik pada kehamilan berikutnya.
  • Kondisi serviks yang tidak optimal akibat aborsi berkali-kali.

Semua metode aborsi memiliki risiko atau komplikasi. Usia kehamilan turut berperan dalam menentukan tingkat risiko. Semakin tua usia kehamilan, semakin tinggi pula risiko dari tindakan aborsi yang dilakukan.

Oleh karena itu, untuk kasus aborsi akibat pemerkosaan, secara khusus diuraikan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah No. 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi atau PP Kespro sebagai aturan pelaksana UU Kesehatan.

Dalam pasal 31 peraturan tersebut, dinyatakan bahwa tindakan aborsi hanya dapat dilakukan pada usia kehamilan paling lama 40 hari, dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) berdasarkan surat keterangan dokter.

Selain itu, dalam pasal 34 (2b) juga disebutkan mengenai syarat menjalani aborsi akibat permerkosaan, yaitu adanya keterangan dari penyidik, psikolog, atau ahli lain yang membenarkan dugaan telah terjadi pemerkosaan itu.

Oleh karena itu, korban pemerkosaan perlu sesegera mungkin melaporkan kejadian pemerkosaan ke kantor polisi terdekat. Polisi akan membawa korban ke Polres yang memiliki unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

Dari unit PPA, korban kemudian akan diantar ke rumah sakit rujukan kepolisian untuk menjalani proses visum. Jika korban membutuhkan konseling psikologis, unit PPA akan membuat rujukan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk pendampingan lebih lanjut.

Namun bagaimana jika kehamilan tak diinginkan terjadi, karena berawal dari hubungaan suka sama suka seperti Seon Ho dan mantan pacarnya ini, terjadi di Indonesia?

Berdasarkan Pasal 75 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ("UU Kesehatan"), pada dasarnya aborsi dilarang dilakukan. Pengecualian terhadap larangan melakukan aborsi ini, diberikan hanya dalam 2 kondisi berikut sesuai Pasal 75 ayat (2) pada UU Kesehatan.

  • Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
  • Kehamilan akibat perkosaan, yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

Lalu, ada sanksi pidana bagi pelaku aborsi, diluar pengecualian pada Pasal 75 ayat (2) di UU Kesehatan, yang diatur dalam Pasal 194 di UU Kesehatan yang berbunyi: 

"Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar."

Selain itu, ketentuan pidana lain terkait dengan aborsi ini, terdapat dalam Pasal 346 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ("KUHP"), yang menyatakan:

“Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”

Dengan demikian, praktik permaksaan aborsi bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Oleh karena itu, pertimbangkan berbagai aspek sebelum kamu atau pasanganmu melakukan atau terlibat dalam tindakan aborsi. Jangan sampai hal tersebut justru membahayakan nyawa kamu sendiri dan harus mendekam karena kasus pidana.[]