Tech

Aplikasi 'Sekolah Enuma: Bahasa Indonesia' Tingkatkan Literasi Digital untuk Anak-Anak

Alternatif pembelajaran bagi anak usia 5–9 tahun yang bisa diakses secara offline.


Aplikasi 'Sekolah Enuma: Bahasa Indonesia' Tingkatkan Literasi Digital untuk Anak-Anak
Aplikasi Sekolah Enuma: Bahasa Indonesia. (Dok. Enuma)

AKURAT.CO Salah satu kunci lahirnya SDM yang kompetitif adalah dengan membuka akses literasi yang berkualitas bagi seluruh anak di Indonesia. Setiap anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, berhak mendapatkan akses literasi dan pendidikan yang berkualitas sejak dini.

Oleh karena itu, aplikasi Sekolah Enuma: Bahasa Indonesia hadir untuk membantu anak-anak agar dapat belajar secara mandiri menggunakan platform digital.

"Aplikasi yang kita luncurkan hari ini merupakan kulminasi kerja selama delapan tahun," kata CEO Enuma, Inc. Sooinn Lee, dalam acara diskusi Akses Literasi Digital untuk Anak Indonesia, di Jakarta, Rabu (26/1/2022).

baca juga:

Pengembangan aplikasi Sekolah Enuma: Bahasa Indonesia melibatkan 60 individu profesional nasional. Termasuk edukator, penyusun kurikulum, penulis cerita, ilustrator, dan aktor.

Perwakilan Enuma Indonesia, Juli Adrian menyampaikan, pihaknya berharap Sekolah Enuma: Bahasa Indonesia bisa diterima dengan baik dan mampu menjangkau 10 juta anak Indonesia, bahkan lebih. Aplikasi dapat diunduh dan digunakan seterusnya secara gratis dan tanpa iklan.

"Melalui kerja sama dengan yayasan, CSR perusahaan, dan para pemangku kepentingan lainnya, kami berharap seluruh keluarga di Indonesia dapat mendapat manfaat dari aplikasi ini," ujar Juli Adrian.

Koordinator Bidang Penilaian dan Pembelajaran Direktorat PAUD Kemendikbudristek, Lestari Koesoemawardani menyampaikan bahwa cara untuk menumbuhkan minat baca sejak dini adalah dengan pendekatan belajar sambil bermain. Menurutnya, dengan adanya aplikasi Sekolah Enuma: Bahasa Indonesia yang dapat diakses luring (offline) menjadi alternatif pembelajaran khususnya bagi anak usia 5–9 tahun yang sedang mempelajari huruf alfabet dan membaca sebagai dasar literasi.

"Konten belajar dalam aplikasi juga menstimulasi anak untuk memiliki pemahaman yang lebih baik pada penguasaan literasi dasar," ujar Lestari.

Sementara itu, pemerintah juga terus mengupayakan peningkatan kemampuan literasi minimum dari 53,20 persen pada 2019 menjadi 61,20 persen pada 2024. Selain itu, angka partisipasi PAUD juga didorong dari 30,85 persen pada 2020 menjadi 32,28 persen pada 2024. Untuk mencapai target tersebut, maka kolaborasi seluruh pihak menjadi bagian penting.