Olahraga

Pelatih Jaya Raya: Greysia dari Kecil Pede-nya Sudah Tinggi

Leny Tejo adalah pelatih yang membina Greysia Polii ketika baru masuk ke PB Jaya Raya pada 1996.


Pelatih Jaya Raya: Greysia dari Kecil Pede-nya Sudah Tinggi
Greysia Polii bersama Apriyani Rahayu menjadi penyumbang medali emas untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. (BADMINTON PHOTO)

AKURAT.CO, Greysia Polii baru berusia sembilan tahun ketika masuk ke klub bulutangkis, PB Jaya Raya, di Bintaro, Jakarta, pada 1996. Bahkan di usia itu, pelatihnya di Jaya Raya sudah melihat potensi Greysia untuk menjadi pebulutangkis elite dunia.

Pengakuan tersebut disampaikan oleh salah satu pelatih yang sempat menangani Greysia ketika pertama masuk di Jaya Raya, Lany Tejo. Lany mengenang Greysia yang termasuk berpostur kecil namun punya pukulan yang lebih lengkap ketimbang atlet dengan tubuh lebih besar.

“Dia paling kecil masuk di tempat kita tahun 96. Latihannya paling rajin, selalu tanya sama yang senior. Dan anaknya emang dari kecil pede-nya itu sudah tinggi,” kata Lany dalam sesi jumpa pers virtual, Selasa (3/8).

“Dari kecil, waktu kecil kan mainnya enggak cuma double aja, waktu masih anak-anak itu kan main single main double, kebetulan Greys itu main double juga, partner-nya Yuan Kartika yang posturnya lebih besar. Greys posturnya lebih kecil tapi pukulannya lebih komplet,” ucap Lany.

Greysia menjadi buah bibir setelah ia mempersembahkan satu-satunya medali emas untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Atlet berusia 33 tahun tersebut menjadi juara di nomor ganda putri bersama rekannya, Apriyani Rahayu, dengan mengalahkan duet asal China, Chen Qingchen/Jia Yifan, di final.

“Dan Greys bisa membawa juniornya, bisa membawa Apri (sapaan Apriyani) bermain lebih tenang, menenangkan Apri supaya tidak terpancing permainan lawannya, medewasakan Apri di lapangan. Kalo kemarin mainnya lebih tenang, lebih bersih, ketenagannya lebih kelihatan,” tutur Leny.

Baik Greysia dan juga Apriyani merupakan lulusan Jaya Raya. Hanya saja, Apriyani berusia sebelas tahun lebih muda ketimbang Greysia dan mereka dipertemukan ketika sama-sama masuk Pelatnas PBSI.

“Anak-anak harus nonton video pertandingan (Greysia/Apriyani di final olimpiade) karena banyak pukulan istimewa yang bisa dipelajari,” kata legenda bulutangkis Indonesia, Imelda Wigoeno.[]