Ekonomi

Pelaku Usaha Ultra Mikro Kerja 11 Jam Sehari dan Nyaris Tanpa Libur Selama Pandemi

Survei Lembaga Riset IDEAS menunjukkan para pelaku usaha ultra mikro bekerja dengan jam kerja yang panjang, jauh di atas jam kerja normal selama pandemi.


Pelaku Usaha Ultra Mikro Kerja 11 Jam Sehari dan Nyaris Tanpa Libur Selama Pandemi
Peserta pameran sedang menenun kain khas nusantara di pameran UMKM yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Sabtu (16/12). Melihat tren 2018 dimana teknologi lebih banyak digunakan oleh masyarakat, diprediksi peluang usaha UMKM pada 2018 akan lebih banyak berkaitan dengan teknologi dan informasi. Sehingga UMKM di Indonesia akan lebih maju jika dilakukan dengan memanfaatkan peluang bisnis secara online. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Survei Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menunjukkan para pelaku usaha ultra mikro bekerja dengan jam kerja yang panjang, jauh di atas jam kerja normal selama pandemi.

“Untuk menyambung hidup saat pandemi pelaku usaha ultra mikro harus beroperasi dengan jam kerja rata-rata 11,67 jam per hari, hal tersebut tidak jauh berbeda dengan sebelum pandemi yang rata-rata 12,07 jam per hari,” kata Yusuf Wibisono Direktur IDEAS dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (15/01/2021).

Survei terkait dampak pandemi terhadap usaha ekonomi mikro yang dilakukan di wilayah Jabodetabek tersebut dimulai pada Juli 2020 dengan 200 responden pelaku usaha di sektor perdagangan dengan kriteria usaha tanpa pegawai, tanpa lokasi usaha, tanpa kendaraan bermotor, dan bukan merupakan distributor usaha besar.

Tidak hanya jam kerja yang panjang, survei ini juga menemukan fakta bahwa pelaku usaha ultra mikro juga harus bekerja nyaris setiap hari. Pandemi tidak banyak berpengaruh pada hari kerja usaha ultra mikro, yang hanya sedikit menurun dari rata-rata 6,65 hari per pekan menjadi rata-rata 6,28 hari per pekan.

“Untuk bertahan hidup, kelompok ekonomi lemah ini tidak pernah memiliki kemewahan untuk tidak bekerja, bahkan ketika pandemi melanda,” ucap Yusuf.

Ia menambahkan, tepukulnya pelaku usaha ultra mikro, membuat sebagian besar dari mereka mengalami disrupsi usaha, jatuhnya omzet dan penerimaan, krisis likuiditas, hingga penutupan usaha secara permanen.

“Dari 63,4 juta usaha mikro ini, sekitar 48 juta di antaranya diperkirakan adalah usaha ultra mikro, pelaku ekonomi terkecil yang selama ini tidak pernah bisa mengakses kredit mikro perbankan sekalipun karena ketiadaan agunan,” jelasnya.

Dari survei tersebut tergambar bahwa tingkat kesejahteraan keluarga usaha ultra mikro kota sangat rendah. Sebagian besar responden (81,5 persen) tinggal di rumah kontrakan, dan 58,0 persen di antaranya memiliki utang.

“Sangat ironis, kerentanan hidup keluarga miskin kota ini bisa luput dari bantuan pemerintah, sebesar 47,5 persen responden mengaku sama sekali tidak pernah mendapat bantuan sosial dari pemerintah,” ujarnya.