Ekonomi

Pelaku Industri Penerbangan Pesimis Bisa Bangkit, Karena Masih Merugi Terus

Pada 2021 kerugian industri penerbangan masih terus berlanjut


Pelaku Industri Penerbangan Pesimis Bisa Bangkit, Karena Masih Merugi Terus
Maskapai penerbangan bersiap lepas landas di Terminal 1B, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (23/6). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) merasa pesimis dengan kebangkitan industri penerbangan setelah pandemi. Asosiasi tersebut mengatakan bahwa pada 2021 kerugian industri penerbangan masih terus berlanjut.

“Krisis ini sangat menghancurkan dan tak henti-hentinya. Maskapai telah memangkas biaya sebesar 45,8 persen, tetapi pendapatan turun 60,9 persen. Akibatnya, maskapai penerbangan akan kehilangan US$66 untuk setiap penumpang yang diangkut tahun ini dengan total kerugian bersih US$118,5 miliar. Kerugian ini akan berkurang tajam sebesar US$80 miliar pada tahun 2021. Tetapi prospek kehilangan US$38,7 miliar tahun depan tidak ada artinya, ”kata Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac dilansir dari Russia Today (30/11/2020).

Untuk itu ia meminta berbagai negara untuk kembali membuka negaranya dengan penerapan karantina ketat. de Juniac juga memperingatkan bahwa keuangan maskpai penerbangan hanya akan bertahan hingga kuartal keempat tahun 2021.

Menurut IATA, dalam menghadapi penurunan pendapatan setengah triliun dolar dari US$838 miliar pada 2019 menjadi US$328 miliar, maskapai penerbangan memangkas biaya sebesar US$365 miliar dari US$795 miliar pada 2019 menjadi US$430 miliar pada 2020.

“Sejarah akan mencatat 2020 sebagai tahun keuangan terburuk di industri penerbangan. berbagai Maskapai memotong biaya hingga satu miliar dolar sehari selama tahun 2020 dan masih akan mengalami kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika bukan karena bantuan keuangan dari pemerintah, kami akan melihat banyak kebangkrutan dalam skala besar, ”kata de Juniac.

Meski industri bakal melihat kinerja yang lebih baik pada tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020, namun jalan menuju pemulihan diperkirakan akan panjang dan sulit.

Asosiasi memperingatkan bahwa volume penumpang diperkirakan tidak akan kembali ke level 2019 hingga 2024, dengan pasar domestik pulih lebih cepat daripada internasional.

“Kerusakan finansial dari krisis ini sangat parah. Dukungan pemerintah telah membuat maskapai penerbangan tetap hidup hingga saat ini. kemungkinan harus ditambah karena krisis berlangsung lebih lama daripada yang bisa diantisipasi siapa pun. Dan harus dalam bentuk yang tidak menambah beban hutang yang telah membengkak menjadi US$651 miliar,” kata de Juniac. []

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu