Ekonomi

Pekerja Freelance Indonesia Naik 16 Persen, Kok Bisa?


Pekerja Freelance Indonesia Naik 16 Persen, Kok Bisa?
Memutuskan kapan harus menggunakan tarif per jam dan tarif per proyek sangat penting bagi seorang freelancer (Pexels)

AKURAT.CO Tenaga kerja lepas (freelance) di Indonesia meningkat 16% dari tahun lalu, menurut data dari Sribulancer, salah satu penyedia jasa freelance Indonesia, Senin (17/6/2019).

Hal ini karena pekerjaan lepas telah menarik generasi milenial di tengah peluang besar untuk bekerja di kancah internasional dan terdapat ruang tidak terbatas untuk mengembangkan diri serta relasi kerja.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir 2018, sebanyak 56,8% masyarakat Indonesia saat ini bekerja di sektor informal, yang diiringi naiknya jumlah pekerja yang berwirausaha di Indonesia, termasuk pekerja lepas atau freelancer.

baca juga:

Kemudian dari data BPS per Mei 2019, basis angkatan kerja di Indonesia tersedia sebanyak 136,18 juta orang, yang terdiri dari jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 129,36 juta orang dan pengangguran sebanyak 6,82 juta orang.

Dari 129,36 juta pekerja tersebut, freelance mengambil porsi 4,55% atau berjumlah sekitar 5,89 juta orang.

"Fenomena freelancer ini memberikan dampak positif untuk perekonomian secara makro karena menciptakan lapangan kerja," kata Piter Abdullah, ketua Centre of Reform on Economics (CORE) kepada Akurat.co.

Para freelancer bisa menjadi solusi keterbatasan lapangan pekerjaan dan kegiatan ekonomi yang produktif karena para freelancer tumbuh tanpa dibebani masalah ketenagakerjaan.

CORE juga menilai bahwa budaya freelance ini akan menjadi tren pekerjaan di masa yang akan datang.

Sribulancer sendiri telah mendapatkan permintaan jasa berjumlah 26.364 dengan kategori pekerjaan yang paling diminati adalah jasa desain sejumlah 5.149 permintaan. Menyusul di belakangnya adalah kategori pengembangan web sejumlah 4.576 permintaan.[]