Ekonomi

Pegawai Kimia Farma Ada Terduga Teroris, Respon Kementerian BUMN Begini

Stafsus BUMN Arya Sinulingga buka suara soal pegawai Kimia Farma yang diduga teroris oleh Densus 88.


Pegawai Kimia Farma Ada Terduga Teroris, Respon Kementerian BUMN Begini
Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (AKURAT. CO/Atikah Umiyani)

AKURAT.CO, Kabag Banops Densus 88 Kombes Aswin Siregar menjelaskan peran terduga teoris berinisial S alias MT. Diketahui, S ditangkap di Bekasi, diduga terafiliasi jaringan Jamaah Islamiyah (JI) dan seorang pegawai salah satu perusahaan farmasi BUMN.

Merespon hal itu, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan pihaknya sangat mendukung dan mensupport langkah-langkah yang dilakukan Densus 88 dan setiap langkah-langkah aparat hukum untuk menyelesaikan kasus terkait karyawan Kimia Farma.

“Dan kami juga sudah meminta kepada Kimia Farma untuk mendukung apapun yang dibutuhkan oleh aparat untuk mengetahui lebih detail setiap permasalahan ini,” jelas Arya kepada media, Selasa (14/11/2021).

Arya menambahkan, terkait karyawan Kimia Farma yang tertangkap, menurutnya hal itu bukan soal perekrutan karyawan di BUMN,

“Jadi kita tahu bukan soal perekrutan karyawannya, tetapi kemungkinan karyawan lama Kimia Farma tersebut terpapar ideologi radikal. Jadi kami soal rekrutmen Karyawan BUMN terus memperbarui proses-prosesnya dan memang kita ketat terkait soal tersebut,” papar Arya.

Ia menegaskan bahwa sejatinya internal BUMN sudah didorong dengan program nilai inti AKHLAK. Hal itu dilakukan agar karyawan bisa mengikis paham-paham radikal di Kimia Farma dan BUMN-BUMN lainnya.

Di samping itu, lanjut Arya, pihaknya juga menjalin kerjasama dengan BNPT untuk melakukan langkah-langkah ideologisasi Pancasila di Kimia Farma maupun BUMN-BUMN lain pada umumnya.

“Saya juga perlu sedikit menjawab mengenai isu-isu ada pemakaian dana CSR untuk radikalisasi dan sebagainya. Bisa kami pastikan sejak bapak Menteri BUMN Erick Thohir di Kementerian BUMN saat ini bapak Menteri BUMN sudah meminta kami membuat satu sistem untuk program CSR. Dengan sistem ini, kami dapat mengetahui di mana lokasi pemberian CSR dan untuk apa CSR tersebut diberikan. Jadi kalau untuk radikalisasi, kecil kemungkinannya," tuturnya.

Selain itu, imbuhnya, dari sisi manajemen direksi juga telah melakukan kurasi ketat terhadap pemanfaatan CSR saat ini, karena kami memang sangat ketat untuk pemanfaatan CSR tersebut.

“Saya juga mendapatkan informasi dari Kimia Farma bahwa karyawan yang merupakan terduga teroris itu tidak bisa mengakses dana CSR, jadi tidak ada yang namanya dana CSR digunakan untuk pemanfaatan radikalisme di Kimia Farma.,” tukas Arya.[]