Lifestyle

Peduli Lingkungan Hidup, KLHK Optimalkan Program Kampung Iklim

Kampung Iklim menguntungkan warga lokal terima wisatawan


Peduli Lingkungan Hidup, KLHK Optimalkan Program Kampung Iklim
Ilustrasi anak-anak bermain di taman buaya yang menjadi bagian dari Kampung Iklim yang berlokasi di kawasan Lenteng Agung, Jgakarsa, Jakarta, Selasa (2/10/2018). Dahulu, Kampung Iklim adalah sebuah kebun yang tak tertata. Setelah berjalannya waktu dan atas himbauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, lokasi ini terbentuk pada Oktober 2017. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Kobaran semangat dalam momentum peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah ditunjukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyatakan komitmen melakukan promosi program Kampung Iklim (ProKlim).

Ya, ProKlim ini merupakan program yang digalakan secara lingkup nasional. Yang digaungkan dengan tujuan mendorong masyarakat agar terlibat dalam upaya penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) serta meningkatkan kesejahteraan di tingkat tapak. 

Intinya KLHK menargetkan pelaksanaan Program Kampung Iklim (Proklim) di 20.000 desa pada tahun 2024. Dalam kesempatan ini, sebagai bentuk semangat menggaungkan program tersebut, KLHK kemudian mengadakan pameran virtual bertajuk 'Upaya Nyata di Tingkat untuk mendukung Komitmen NDC Indonesia" yang didikung oleh Global Green Growth Institute (GGGI) belum lama ini.

Beberapa nara sumber pun hadir dalam kesempatan diskusi virtual tersebut, diantaranya Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Laksmi Dhewanthi dan Penggiat ProKlim Desa Salassae Kabupaten Bulukumba, Armin Salassa. 

Bicara ProKlim, sebbetulnya kata Laksmi Dhewanti, pemerintah sangat berharap masyarakat sadar akan pentingnya penerapan gaya hidup bersih dan sehat.

Peduli Lingkungan Hidup, KLHK Optimalkan Program Kampung Iklim - Foto 1

Dengan begitu, Laksmi meyakini penerapan itu dapat membuat lingkungan menjadi bersih. Menurut Laksmi Dhewanita, jika tingkat masyarakat terhadap penerapan itu berjalan baik, maka mitigasi perubahan iklim pun berjalan dengan sendirinya.  

"Melalui Program Kampung Iklim kami mengajak kepada semua individu masyarakat untuk bersama-sama menjadi pelopor dan penggerak gaya hidup bersih dan sehat di lingkungan masing-masing," kata Dirjen PPI KLHK Laksmi.

Oleh karena itu, Laksmi berharap ayo masyarakat lakukan hal yang sederhana seperti menghemat air, membuat resapan air, menghemar penggunaan listrik, membersihkan sampah dan membuang pada tempatnya, menghijaukan lingkungan dan membuat sarana penanggulangan banjir. Agar semuanya menjadi lebih ringan, Laksmi merasa masyarakat, pemerintah dan stakeholder harus berkolaborasi. 

"Kami meyakini kita semua bisa dan dapat menjadi motor utama dalam menciptakan kelestarian lingkungan hidup," jelasnya Laksmi.

Dalam kesempatan yang sama, Penggiat ProKlim Desa Salassae Kabupaten Bulukumba Armin Salassa juga menyampaikan kebijakan pemerintah sudah tepat. Kenapa? karena baginya itu sudah menyasar untuk perbaikan lingkungan.

"Jadi pembangunan apapun, semuanya harus bervisi lingkungan. Dengan kebijakan ini seluruh pemerintah desa dan masyarakatnya dapat melakukan gerakan peduli lingkungan," kata Armin Salassa.

Selain diskusi virtual tersebut, dalam kesempatan peserta yang hadir melihat aksi-aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang sudah dilakukan berbagai lokasi pencontohan dengan pendampingan Balai Pengendalian Perubahan Iklim-Kebakaran Hutan dan Lahan (PPI-KHL) di 5 wilayah.

Peduli Lingkungan Hidup, KLHK Optimalkan Program Kampung Iklim - Foto 2

Antaralain, di Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Riau, warga mengupayakan ketahanan pangan, di Kelurahan Kampung Bugis, RW. 23 Kelurahan Purwantoro, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, di Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, di Desa Mensiau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur dan di Kampung Margorukun, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat.

Contohnya seperti di Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjung Pinang, Provinsi Riau. Warga disana rupanya melakukan aksi adaptasi perubahan iklim dengan mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan perkebunan mandiri yang ramah lingkungan, yaitu pertanian sayuran dan obat-obatan yang memanfaatkan lahan tidur, pekarangan rumah daratan dan di atas laut.

Contoh lain di Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, yakni warga mengantisipasi kekeringan, banjir dan longsor dengan pembuatan embung, terasering, penampungan air hujan, serta penggalian lubang biopori dan rorak.[]