News

Pecahkan Rekor Tertinggi, Israel Tahan 798 Warga Palestina Tanpa Pengadilan

Pecahkan Rekor Tertinggi, Israel Tahan 798 Warga Palestina Tanpa Pengadilan
HaMoked rutin mengumpulkan data dari otoritas penjara Israel untuk mengetahui jumlah warga Palestina yang ditahan dalam status penahanan administratif. (Haaretz)

AKURAT.CO Israel menahan 798 warga Palestina tanpa pengadilan maupun dakwaan. Jumlah ini menjadi yang tertinggi sejak 2008, menurut kelompok HAM Israel, HaMoked, pada Minggu (2/10).

Dilansir dari Associated Press, HaMoked rutin mengumpulkan data dari otoritas penjara Israel. Para tahanan tersebut dikurung dengan status 'penahanan administratif' tanpa mengetahui dakwaan terhadap mereka. Mereka juga tak diizinkan mengakses bukti yang memberatkan mereka.

Menurut HaMoked, jumlah tahanan berstatus penahanan administratif terus naik tahun ini. Pasalnya, Israel melancarkan serangan penangkapan malam di Tepi Barat sebagai tanggapan atas serentetan serangan terhadap Israel awal tahun ini.

baca juga:

Israel menggunakan status penahanan administratif dengan dalih demi mencegah serangan dan menahan militan berbahaya tanpa mengungkap intelijen sensitif. Menurut kelompok HAM dan warga Palestina, sistem ini kejam dan membelenggu kebebasan tanpa proses hukum. Akibatnya, sejumlah warga Palestina terkurung selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tanpa bisa mengakses bukti. Beberapa di antaranya sengaja mogok makan yang dapat mengancam jiawa untuk menarik perhatian atas penahanan mereka.

"Penahanan administratif seharusnya menjadi tindakan luar biasa. Namun, Israel memanfaatkannya secara besar-besaran tanpa pengadilan. Ini harus dihentikan. Jika Israel tak dapat mengadili mereka, seharusnya semua tahanan administratif dibebaskan," kecam Jessica Montell, direktur eksekutif HaMoked.

Menurut HaMoked, angka ini menjadi puncak baru dalam gelombang penahanan administratif. Tindakan ini mulai berkembang musim semi lalu, menyusul serangkaian serangan oleh warga Palestina terhadap warga Israel yang menewaskan 19 orang. Serangan tersebut memicu serangan Israel yang menewaskan sekitar 100 warga Palestina.

Banyak dari mereka diklaim sebagai militan atau pemuda lokal yang memprotes serangan ke kota mereka. Namun,warga sipil juga tewas dalam kekerasan itu.

Sementara itu, menurut militer Israel, sekitar 1.500 warga Palestina telah ditangkap dalam kurun waktu tersebut, termasuk mereka yang ditahan dengan status penahanan administratif. Mereka bersikeras serangan itu diperlukan untuk membongkar jaringan militan dan menggagalkan serangan terhadap Israel. Sebaliknya, Palestina menuding serangan Israel bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan militernya selama 55 tahun atas wilayah yang mereka inginkan untuk negara masa depan.

Tahanan administratif sebanyak itu terakhir kali terjadi pada Mei 2008, bertepatan dengan peningkatan kekerasan Israel-Palestina.

Israel merebut Tepi Barat dalam perang Timur Tengah 1967. Sejak itu, mereka mendirikan sekitar 130 pemukiman di sana yang kini dihuni 500 ribu pemukim. Palestina juga menginginkan wilayah itu, bersama dengan Yerusalem timur dan Jalur Gaza demi negara merdeka yang mereka impikan. []