Ekonomi

Pebisnis Wajib Punya 3 Pola Pikir Ini Ketika Menghadapi Ketidakpastian

Ini berbagai pola pikir (mindset) yang harus dimiliki oleh seorang pebisnis untuk tetap menumbuhkan bisnisnya di tengah ketidakpastian.


Pebisnis Wajib Punya 3 Pola Pikir Ini Ketika Menghadapi Ketidakpastian
Ilustrasi : Pengusaha (dream.co.id)

AKURAT.CO Di saat DKI Jakarta kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai 14 September 2020, tentu ini akan memengaruhi semua sektor usaha/bisnis.

Meski terpaksa harus kembali menutup bisnis sementara waktu dan omzet terancam turun, namun seorang pebisnis harus tetap menjaga pola pikir (mindset) agar bisnis tetap berkembang di tengah ketidakpastian. Cara pandang yang bisa dilakukan adalah dengan menggabungkan dua metode berbisnis yaitu offline dan online.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini berbagai pola pikir (mindset) yang harus dimiliki oleh seorang pebisnis untuk tetap menumbuhkan bisnisnya di tengah ketidakpastian.

1. Sisi konsumen
Seorang pebisnis harus menyasar dua jenis konsumen, digital immigrant dan digital native. Digital immigrant adalah orang yang baru terpapar dengan dunia digital ketika sudah remaja atau dewasa. Biasanya konsumen jenis ini berasal dari generasi baby boomers, Gen X hingga Gen Y.

Sedangkan digital native adalah orang-orang yang sejak lahir sudah terpapar dengan dunia digital. Biasanya mereka adalah Gen Z bahkan Gen Alpha. Seorang pebisnis haruslah mampu menyasar kedua jenis konsumen tersebut untuk dapat terus berkembang atau biasa disebut dengan istilah ‘Omny customer’.

2. Sisi produk
Di era pandemi ini, seorang pebisnis harus mampu melihat lebih dari nilai (value) yang ada di dalam sebuah produk. Value sendiri adalah kelayakan yang dibawa oleh produk tersebut atas manfaat dan harga yang ditawarkan.

Seharusnya, pebisnis juga harus mampu melihat sisi personal dari produk yang ditawarkannya atau biasa disebut sebagai value. Jadi, seorang konsumen kini tidak hanya melihat value dari sebuah produk tetapi juga relevansinya dengan nilai yang dibawa atau dipercayai oleh dirinya.

3. Sisi branding
Jika sebelumnya banyak produk yang melakukan branding hingga pemasaran dengan kampanye untuk memperkenalkan produknya, kini cara pandang tersebut harus ditambah.

Seorang pebisnis haruslah mampu menyusun kampanye hingga konsumen bisa melakukan pembelian dengan cepat. Pasalnya, dengan semakin masifnya infrastruktur digital, semakin banyak pula pesaing dari produk yang dipasarkan.

Bahkan, seorang pebisnis juga bisa menambah nilai urgensi agar konsumen akhirnya memutuskan untuk membeli produk yang kamu tawarkan. []