News

'PDKT' dengan Joe Biden, Kim Jong-un Bersiap-siap Adakan 'Dialog dan Konfrontasi'

Hubungan Washington dan Pyongyang tercatat makin tegang sejak perundingan nuklir dengan mantan Presiden AS, Donald Trump, menemui titik buntu.


'PDKT' dengan Joe Biden, Kim Jong-un Bersiap-siap Adakan 'Dialog dan Konfrontasi'
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengatakan negaranya perlu bersiap untuk 'dialog dan konfrontasi' dengan Amerika Serikat yang dipimpin Joe Biden (ABC News: Jarrod Fankhauser)

AKURAT.CO, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mulai merencanakan strategi pendekatan politik dengan presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Diungkap berbagai media, dalam pendekatannya itu, Kim berniat tidak hanya melakukan dialog, tetapi juga 'konfrontasi'.

Seperti diungkap media pemerintah KCNA, Kim mengatakan negaranya perlu bersiap untuk 'dialog dan konfrontasi' dengan AS yang kini dipimpin oleh Biden. Seruan untuk bersiap-siap dengan AS itu disampaikan Kim selama pertemuan komite pusat partai Buruh, Kamis (17/6) waktu setempat.

Ia juga menguraikan strategi tentang hubungan Korut dan Washington, serta cara mengatasi 'kecenderungan kebijakan pemerintah AS yang baru muncul'. Kim juga menekankan perlunya bersiap untuk dialog dan konfrontasi, terutama demi melindungi martabat Korut, dan menjamin kedamaian di kawasan semenanjung Korea. 

"Pemimpin menyerukan untuk segera bereaksi dalam mengatasi situasi yang berubah dengan cepat. Ia juga menyerukan adanya upaya terfokus untuk untuk mengambil kendali atas situasi di semenanjung Korea," kata KCNA seperti dikutip dari The Guardian.

Hubungan Washington dan Pyongyang tercatat makin tegang sejak perundingan nuklir dengan mantan Presiden AS, Donald Trump, menemui titik buntu. Bahkan, saat Biden menjabat, Korut masih nekat melakukan uji coba rudal balistik ke Laut Jepang pada Maret lalu. Tidak ada laporan jiwa saat uji coba tersebut. Namun, aksi Korut itu memicu ketegangan, tidak hanya dengan Korea Selatan, tetapi juga Jepang. 

Sementara, AS pada gilirannya ikut mengkritik uji coba dan akhirnya dibalas keras oleh Pyongyang. Saat itu, Korut bahkan menyebut Biden telah melakukan langkah yang salah, dan mengatakan bahwa sikapnya itu jelas menunjukkan 'permusuhan yang mendalam' terhadap rezim Kim.

Setelahnya, eskalasi kembali muncul pada masa-masa latihan gabungan militer AS-Korsel, dan kunjungan kepala pertahanan dan luar negeri AS di Seoul Maret lalu. Diketahui, dalam pertemuan itu, AS dan Korsel ikut membahas program nuklir Korut. 

Menjelang pertemuan itu, Korut menegaskan keengganannya untuk berunding dengan AS, dan menyebut bahwa upaya negosiasi hanyalah 'membuang-buang waktu'. Ditekankan pula bahwa Pyongyang tidak akan akan berdialog jika AS 'masih menggelorakan kebijakan yang memusuhi Korut'.

Sementara diketahui, AS sendiri telah berupaya memulai kontak dengan Korut, termasuk melaui email hingga pesan telepon.

"Apa yang telah didengar dari AS sejak kemunculan rezim baru hanyalah teori gila tentang 'ancaman dari Korut' dan retorika tak berdasar tentang 'denuklirisasi lengkap'. Kami telah menyatakan pendirian kami bahwa tidak ada kontak ataupun dialog apapun antara (Korut)-AS, kecuali AS membatalkan kebijakan bermusuhannya terhadap (Korut). Oleh karena itu, kami juga akan mengabaikan upaya seperti itu dari AS di masa mendatang," ucap Wakil Menteri Luar Negeri Korut, Choe Son Hui.

Sedangkan saat dikunjungi oleh Presiden Moon Jae-in bulan lalu, Biden juga terlihat 'tidak mau melunak' dengan Korut. Saat itu, Biden juga mengkritik 'persahabatan' antara Kim dan Trump, dan mengatakan bahwa ia tidak mau melakukan hal yang sama. 

Biden tegas mengatakan bahwa dia 'tidak akan bertemu' dengan Kim kecuali ada rencana konkret untuk merundingkan persenjataan nuklir Pyongyang.

"Apa yang tidak akan saya lakukan adalah apa yang telah dilakukan di masa lalu. Saya tidak akan memberikan semua yang dia cari, pengakuan internasional sebagai hal yang sah. Saya juga tidak akan memberi sesuatu yang tidak dia seriusi sama sekali," ucap Biden seperti dilansir dari CNBC pada 21 Mei.

Sementara saat ini, Gedung Putih mengaku sedang mengejar 'pendekatan praktis yang terkalibrasi', dengan jargon diplomatik yang disertai pikiran terbuka. Kami memahami di mana upaya sebelumnya di masa lalu mengalami kesulitan dan kami telah mencoba untuk belajar dari itu," kata seorang pejabat senior Gedung Putih. []