News

PDI P, Soekarno dan Hikayat Kopi Jawa

Rupanya, PDIP serius mengembangkan kreativitas para kalangan pecinta kopi mulai dari anak muda hingga orang tua


PDI P, Soekarno dan Hikayat Kopi Jawa
Ketua Festival Kopi Tanah Air sekaligus Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono (AKURAT.CO/PETRUS C. VIANNEY)

AKURAT.CO, Secangkir kopi panas dengan asap mengebul terhidang di meja, bau harum aromanya sungguh memanjakan penikmatnya. Kopi sejatinya menjadi budaya bangsa Indonesia. Pasalnya tidak perduli tua, muda, miskin, kaya hampir semua menggemari kopi nusantara. Nikmat minum kopi sejatinya mampu melupakan gundah dan sedih dihati kendati hanya untuk sementara. 

Tak heran dimana ada kopi disitu berkumpul penikmat kopi. Seperti halnya Festival Kopi Tanah Air yang digelar oleh Dewan Pimpinan Pusat PDI-Perjuangan (PDIP) selama tiga hari kedepan. Adapun festival tersebut sebagai agenda penutupan HUT PDIP ke-49.

Rupanya, PDIP serius mengembangkan kreativitas para kalangan pecinta kopi di tanah air. Pasalnya mulai dari anak muda hingga orang tua terbiasa menikmati kopi dan menjadikan kopi sebagai 'teman' dalam segala aktivitasnya.

baca juga:

Ketua Festival Kopi Tanah Air, Ono Surono menguak kisah Kopi Jawa. Menurutnya sejak tahun 1922, William H.Ukers dalam bukunya All About Coffee menuliskan hikayat perjalanan kopi dari Pulau Jawa dan menjadi kopi yang terbaik di dunia serta memiliki harga yang mahal. 

Ono mengenang sebuah kisah sekitar tahun 1960-an. Sosok Presiden pertama RI, Soekarno seringkali membanggakan kopi asal Pulau Jawa. Soekarno terkenal dengan kalimat A Coffee of Java. Sehingga sejak dahulu bangsa Indonesia menyadari betul bahwa mereka memiliki kopi yang sangat enak dan paling baik di dunia. Ono mendorong generasi muda mengambil peran dalam bisnis kopi dunia. Peluang itu menurutnya sangat terbuka tinggal bagaimana memanfaatkan dengan baik.

"Saat ini kebutuhan kopi dunia mencapai 8,2 juta ton per tahun, sedangkan produksi kopi di Indonesia baru mencapai 760 ribu ton pertahun. Dimana, 59 persennya kopi Indonesia itu untuk ekpor,"  ucap Ono saat ditemui dalam Festival Kopi Tanah Air, di Kawasan Parkir Timur Senayan, Jakarta, Jumat (27/5/2022).

Ketua DPD PDIP Jawa Barat itu menuturkan, potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia dalam bidang perkebunan kopi hingga menjadi suatu komoditi tentu tidak dapat dipandang sebelah mata. Saat ini, perubahan budaya minum kopi ini telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan, mengingat para kaum milenial juga memiliki ketertarikan terhadap kopi. 

Budaya minum kopi semakin terasa elitis dengan dibukanya kedai, dan cafe khusus menyajikan kopi. Muncul pula berbagai produk dan merek kopi hasil kreasi para barista milenial dengan harga funtastis. Seakan menjadi warna tersendiri yang menunjukkan pergeseran budaya minum kopi khususnya di tanah air. 

"Jadi bagi anak muda, nongkrong di warung kopi, nongkrong di kedai kopi itu merupakan hal yang kekinian," ucap Ono.

Sementara itu, para pelaku ekonomi yang bergerak dalam usaha kecil dan menengah acapkali merasakan perputaran uang yang begitu deras dari kedai-kedai kopi yang dibangun. Sebab pelaku UMKM mampu mendulang rezeki dari kopi. 

"Banyak kedai-kedai kopi yang sekarang terbangun sehingga tidak salah perputaran dari kedai kopi itu, satu tahun dari satu kedai kopi itu menjual 200 cup perhari, perputarannya memcapai 4,8 triliun pertahunnya," jelas Ono.

Memang kopi telah menjadi kebutuhan bagi setiap penikmatnya, semua orang bebas ingin menjadikannya apa? rekan kerja, teman curhat, hingga sahabat dalam segala suasana.

PDIP sangat berserius sekali dalam mendukung kreativitas anak muda sebagai potensi untuk mendorong ekonomi bangsa dalam gelaran Festival Kopi Tanah Air.

"Ada pameran, lomba barista, wektop pelatihan hulu sampai Hilir, bisnis forum pasar lelang biji kopi dan kami pun akan menampilkan Mini museum kopi dan tidak lupa akan ada pertunjukan seni budaya dan penampilan artis-artis tanah air," ucap Ono.

Ono berharap setiap insan yang hadir dapat menyukseskan program pengembangan kopi nusantara yang tersebar dari Aceh hingga Papua, sehingga dapat mewujudkan keinginan Mba Puan untuk menjadikan Kopi Indonesia sebagai Nomor 1 di Dunia.[]